Bagi sebagian orang yang belum memahami secara mendalam, antara kartografi digital dan SIG sulit membedakannya. Batasnya menjadi samar terlebih keduannya juga menggunakan perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware) modern dan juga keluarannya peta. Atau dengan perkataan lain, menggunakan komputer dan programnya, kemudian juga sama-sama dapat menghasilkan peta. Letak perbedaannya kemudian dimana ?. Mari ditelusuri dari awal agar menjadi jelas.

Definisi kartografi ialah seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi tentang pembuatan peta-peta sekaligus mencangkup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Kemudian SIG atau Sistem Informasi Geografis ialah  sebuah sistem untuk pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, analisis dan penayangan (display) data yang terkait dengan permukaan bumi (Burrough, 1986). Sebenarnya dari kedua definisi tersebut telah tampak jelas bahwasanya SIG juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan peta sebagai fungsi penayangan (display) data spasial. Jadi perangkat lunak SIG dapat digunakan juga untuk kegiatan atau aktivitas kartografi digital. Namun belum tentu sebaliknya. Sebagai contoh untuk kegiatan kartografi digital, seseorang dapat menggunakan Adobe Illustrator dipadu dengan MapPublisher dari Avenza. Kemudian, bisa juga hanya dengan Quantum GIS. Perbedaan nyata diantara kedua perangkat lunak itu ialah anda tidak bisa melakukan analisis spasial dengan Adobe Illustrator walaupun telah ditambahi MapPublisher. Sedangkan dengan Quantum GIS anda dapat melakukannya.

Lebih jauh lagi, letak perbedaan ialah untuk kegiatan kartografi digital fokusnya akan lebih pada representasi obyek-obyek dalam peta dalam wujud simbol dan menonjolkan pada aspek representasi secara grafis saja. Jadi, tidak menonjolkan topologi data, analisis spasial sehingga tidak strict dalam hal kebutuhan format data, geometri data serta layer data apa saja yang harus digunakan. Berbeda dengan SIG, untuk data biasanya sangat strict dimana untuk suatu analisis spasial layer data yang diperlukan diharuskan mengikuti suatu format, geometri, tipe serta akurasi dan susunan tertentu. Didalam SIG, data atribut spasial sangat penting artinya. Karena data atribut spasial itu menerangkan obyek yang tergambar secara grafis. Oleh karena kegiatan kartografi digital menonjolkan aspek representasi obyek dalam bentuk simbol, maka umumnya perangkat lunak yang didesain khusus untuk ini, misalnya dengan punya set simbol dan labeling yang lebih banyak.

Urairan diatas menunjukkan bahwa bila dalam rangkaian proses SIG yang terdiri atas input data –>pengelolaan data –>analisis data –>penampilan data, kartografi digital bersinggungan dengan proses penampilan data hasil analisis dari kegiatan SIG. Inilah yang sering menjadikan orang yang belum memahami secara mendalam tentang keduannya menjadi memukul rata keduanya atau menganggap remeh salah satunya atau membanding-bandingkan kemampuan secara individual. Orang yang bekerja fokus pada kartografi digital akan berupaya membuat tampilan sebaik mungkin sehingga menghasilkan peta yang bagus. Sementara itu orang yang lebih fokus kedalam analisis SIG (GIS analyst) akan mengupayakan memperoleh hasil akurat dari proses analisis spasialnya ataupun pemodelan spasialnya dengan mengupayakan input data, pengelolaan data dan proses analisisnya sesuai dengan framework. Didalam era digital ini, keduanya juga menggunakan komputer dan program-program yang canggih kok. Bahkan, keduanya juga bisa menggunakan bahasa pemrograman komputer dalam kegiatannya.

Pada dunia pekerjaan profesional, pekerjaan GIS analyst dan Cartographer ini memang sering telah dibedakan. Umumnya orang yang fokus dalam kartografi ini diberikan label sebagai kartografer atau Cartographer, sedangkan orang yang lebih fokus ke SIG diberikan label mulai dari GIS technician, GIS Officer, GIS analyst, GIS Developer hingga GIS Manager. Orang yang menekuni GIS, dipastikan bisa juga membuat peta kok, mulai merancang layout hingga menghasilkan peta. Kalau tidak, berarti tidak lulus GIS. Hanya saja ia tidak memfokuskan diri hanya pada penampilan data atau representasi data semata seperti halnya kartografer. Sehingga seringkali untuk keperluan tertentu, diperlukan rekan-rekan yang fokus pada kartografi agar didapatkan visualisasi peta yang lebih. Misalnya, untuk keperluan suatu proyek dimana outputnya berupa publikasi dalam sebuah buku, atlas baik format cetak maupun digital, diperlukan rekan kartografer yang secara khusus merancang layout dan visualisasi peta agar sesuai dengan format dan desain buku atau atlas yang hendak dibuat. Sementara rekan GIS lebih fokus pada aktivitas input data, pengelolaan data sekaligus analisis data spasial itu.

Apakah rekan GIS itu berarti lebih canggih daripada rekan kartografer?. Yang perlu saya tegaskan disini ialah ini semua semata hanyalah pembagian peran. Ibarat profesi dokter, ada spesialis mata, spesialis penyakit dalam dan seterusnya, ada juga yang dokter umum. Dalam hal ini juga demikian. Mudah-mudahan dari uraian singkat ini bermanfaat.

 

 

Akhir pekan yang cukup produktif, kemudian disempurnakan dengan QGIS 3.0 Girona. Mengapa demikian?, karena setelah penat dengan aktivitas code-code dan data-data, kemudian sukses mendownload dan melakukan proses install QGIS 3.0. Darimana sumbernya selain  dari sini.

Kesan pertama saat QGIS 3.0 ini sedang loading…, terlihat cakep sekali. Simbol Q tampak sudah didesain ulang sehingga lebih menarik. Namun dari interface didalamnya, anda yang telah terbiasa dengan versi sebelumnya tidak akan kebingungan kok. Desain sepintas masih mengikuti pola lama. Namun jangan salah loh. Ada fitur baru yang sebelumnya tidak ada, yaitu 3D. Jadi pada menu View > New 3D Map View dapat digunakan untuk mengisi sebuah 3D view dari sebuah project. Ini akan otomatis membuat dock widget baru dengan 3D map canvas. Jadi fitur 3D ini menjadi native pada versi QGIS 3.0 ini. Menarik bukan?. Selamat bereksplorasi..!

Seminggu yang lalu mendapatkan pengalaman yang menarik terkait membaca peta. Entah karena dulunya pengajaran tidak sampai ke hal-hal mendasar, sehingga saya menjumpai siswa yang ketika berhadapan dengan peta hardcopy mati gaya. Sederhana saja, ketika saya meminta plotting koordinat diatas peta, beberapa siswa kesulitan melakukannya.

Secara sederhana, kegiatan membaca peta merupakan kegiatan melihat dengan cara yang memungkinkan pembaca itu untuk dapat memahami atau mendapatkan informasi dari dalam peta tersebut. Jadi kegiatan ini berbeda dibandingkan dengan kegiatan melihat lukisan atau karya seni visual yang lain karena endingnya penafsiran dari peta harus sama. Oleh karena itu dipeta selalu dilengkapi dengan legenda yang memuat arti dari simbolisasi.

Tips paling sederhana untuk mendapatkan informasi dari peta tanpa gagal paham ialah dengan memfokuskan pada 5 elemen peta berikut ini terlebih dahulu, (1) membaca judul peta, (2) membaca legenda,  (3) membaca skala, (4) membaca orientasi, (5) melihat ke-4 pojok peta dimana koordinat batas-batas peta dicantumkan. Anda bisa saja membuat urutan sendiri dari 5 hal tadi. Untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dan rinci baru dilanjutkan ke elemen utama peta (main map), kemudian ke bagian inset, sumber data dan sebagainya. Sederhana bukan?