Belajar GIS

Sebagai orang yang bekerja intens dibidang geospasial, begitu menaruh respek terhadap Roger Tomlinson ( 17 November 1933 – 9 Februari 2014). Roger Tomlinson dikenal secara luas sebagai “father of GIS”, bapaknya GIS. Kemudian pada sosok  Jack Dangermond yang dengan isterinya mendirikan ESRI. Pada awal-awal belajar GIS, software produksi ESRI yaitu PC Arc/Info 3.5.1 ialah software yang pertama saya kenal dibangku kuliah. Hingga perkembangan software produksi ESRI yang sekarang,  benar-benar tak dapat dilepaskan begitu saja. Kemudian software GIS kategori free yang populer yaitu QGIS dimana Gary Sherman dikenal sebagai salah satu godfathernya. Sebenarnya masih banyak lagi, tokoh-tokoh seperti itu.

Kontribusi tokoh-tokoh seperti yang saya sebut dan yang lainnya besar sekali. Sebagai contoh Gary Sherman tadi, menilik dari latar belakangnya, ia belajar pertambangan dan mineral engineering atau katakanlah ia seorang geolog. Namun, karena banyak bekerja dengan peta, kemudian menemui persoalan-persoalan teknis terkait dengan itu, akhirnya membidani QGIS. Sederhana saja, ingin melihat data PostGIS  pada Linux box yang ia miliki. Kemudian setelah jam kerja ya ngoprek istilahnya. Yaitu dengan modal  C++ dan Qt, kira-kira tahun 2002 ia kerjakan itu sebagai proyek hobi. Kemudian ia share dan mencari kontributor.

Sederhana sekali, tapi yang sebenarnya saya melihat bahwa tokoh-tokoh tersebut punya semangat atau spirit problem solving tinggi dan layak dicontoh. Bukan yang menyerah begitu ada kendala. Mereka membuat sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin menjadi mungkin. Tanpa ada cabang ilmu GIS, tidak terbayang jadi apa saya sekarang. PC Arc/Info 3.5.1 produksi ESRI tersebut, saya juga tidak akan mudah memahami konsep tipe data, topologi, network dan representasi realworld ke dalam data geospasial semapan sekarang. Kemudian, bila tidak ada QGIS, bagaimana siswa saya dengan beragam jenis laptop bisa belajar pemetaan ?. Tidak mungkin memerintahkan semua harus dengan sistem operasi tertentu saja. Karena ada QGIS, sistem operasi laptop yang mereka pakai bisa bervariasi sesuai kesukaan, kemampuan ekonomi masing-masing dan tetap bisa belajar dengan satu jenis software yang sama.

Bagi sebagian orang yang belum memahami secara mendalam, antara kartografi digital dan SIG sulit membedakannya. Batasnya menjadi samar terlebih keduannya juga menggunakan perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware) modern dan juga keluarannya peta. Atau dengan perkataan lain, menggunakan komputer dan programnya, kemudian juga sama-sama dapat menghasilkan peta. Letak perbedaannya kemudian dimana ?. Mari ditelusuri dari awal agar menjadi jelas.

Definisi kartografi ialah seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi tentang pembuatan peta-peta sekaligus mencangkup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Kemudian SIG atau Sistem Informasi Geografis ialah  sebuah sistem untuk pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, analisis dan penayangan (display) data yang terkait dengan permukaan bumi (Burrough, 1986). Sebenarnya dari kedua definisi tersebut telah tampak jelas bahwasanya SIG juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan peta sebagai fungsi penayangan (display) data spasial. Jadi perangkat lunak SIG dapat digunakan juga untuk kegiatan atau aktivitas kartografi digital. Namun belum tentu sebaliknya. Sebagai contoh untuk kegiatan kartografi digital, seseorang dapat menggunakan Adobe Illustrator dipadu dengan MapPublisher dari Avenza. Kemudian, bisa juga hanya dengan Quantum GIS. Perbedaan nyata diantara kedua perangkat lunak itu ialah anda tidak bisa melakukan analisis spasial dengan Adobe Illustrator walaupun telah ditambahi MapPublisher. Sedangkan dengan Quantum GIS anda dapat melakukannya.

Lebih jauh lagi, letak perbedaan ialah untuk kegiatan kartografi digital fokusnya akan lebih pada representasi obyek-obyek dalam peta dalam wujud simbol dan menonjolkan pada aspek representasi secara grafis saja. Jadi, tidak menonjolkan topologi data, analisis spasial sehingga tidak strict dalam hal kebutuhan format data, geometri data serta layer data apa saja yang harus digunakan. Berbeda dengan SIG, untuk data biasanya sangat strict dimana untuk suatu analisis spasial layer data yang diperlukan diharuskan mengikuti suatu format, geometri, tipe serta akurasi dan susunan tertentu. Didalam SIG, data atribut spasial sangat penting artinya. Karena data atribut spasial itu menerangkan obyek yang tergambar secara grafis. Oleh karena kegiatan kartografi digital menonjolkan aspek representasi obyek dalam bentuk simbol, maka umumnya perangkat lunak yang didesain khusus untuk ini, misalnya dengan punya set simbol dan labeling yang lebih banyak.

Urairan diatas menunjukkan bahwa bila dalam rangkaian proses SIG yang terdiri atas input data –>pengelolaan data –>analisis data –>penampilan data, kartografi digital bersinggungan dengan proses penampilan data hasil analisis dari kegiatan SIG. Inilah yang sering menjadikan orang yang belum memahami secara mendalam tentang keduannya menjadi memukul rata keduanya atau menganggap remeh salah satunya atau membanding-bandingkan kemampuan secara individual. Orang yang bekerja fokus pada kartografi digital akan berupaya membuat tampilan sebaik mungkin sehingga menghasilkan peta yang bagus. Sementara itu orang yang lebih fokus kedalam analisis SIG (GIS analyst) akan mengupayakan memperoleh hasil akurat dari proses analisis spasialnya ataupun pemodelan spasialnya dengan mengupayakan input data, pengelolaan data dan proses analisisnya sesuai dengan framework. Didalam era digital ini, keduanya juga menggunakan komputer dan program-program yang canggih kok. Bahkan, keduanya juga bisa menggunakan bahasa pemrograman komputer dalam kegiatannya.

Pada dunia pekerjaan profesional, pekerjaan GIS analyst dan Cartographer ini memang sering telah dibedakan. Umumnya orang yang fokus dalam kartografi ini diberikan label sebagai kartografer atau Cartographer, sedangkan orang yang lebih fokus ke SIG diberikan label mulai dari GIS technician, GIS Officer, GIS analyst, GIS Developer hingga GIS Manager. Orang yang menekuni GIS, dipastikan bisa juga membuat peta kok, mulai merancang layout hingga menghasilkan peta. Kalau tidak, berarti tidak lulus GIS. Hanya saja ia tidak memfokuskan diri hanya pada penampilan data atau representasi data semata seperti halnya kartografer. Sehingga seringkali untuk keperluan tertentu, diperlukan rekan-rekan yang fokus pada kartografi agar didapatkan visualisasi peta yang lebih. Misalnya, untuk keperluan suatu proyek dimana outputnya berupa publikasi dalam sebuah buku, atlas baik format cetak maupun digital, diperlukan rekan kartografer yang secara khusus merancang layout dan visualisasi peta agar sesuai dengan format dan desain buku atau atlas yang hendak dibuat. Sementara rekan GIS lebih fokus pada aktivitas input data, pengelolaan data sekaligus analisis data spasial itu.

Apakah rekan GIS itu berarti lebih canggih daripada rekan kartografer?. Yang perlu saya tegaskan disini ialah ini semua semata hanyalah pembagian peran. Ibarat profesi dokter, ada spesialis mata, spesialis penyakit dalam dan seterusnya, ada juga yang dokter umum. Dalam hal ini juga demikian. Mudah-mudahan dari uraian singkat ini bermanfaat.

 

 

Akhir pekan yang cukup produktif, kemudian disempurnakan dengan QGIS 3.0 Girona. Mengapa demikian?, karena setelah penat dengan aktivitas code-code dan data-data, kemudian sukses mendownload dan melakukan proses install QGIS 3.0. Darimana sumbernya selain  dari sini.

Kesan pertama saat QGIS 3.0 ini sedang loading…, terlihat cakep sekali. Simbol Q tampak sudah didesain ulang sehingga lebih menarik. Namun dari interface didalamnya, anda yang telah terbiasa dengan versi sebelumnya tidak akan kebingungan kok. Desain sepintas masih mengikuti pola lama. Namun jangan salah loh. Ada fitur baru yang sebelumnya tidak ada, yaitu 3D. Jadi pada menu View > New 3D Map View dapat digunakan untuk mengisi sebuah 3D view dari sebuah project. Ini akan otomatis membuat dock widget baru dengan 3D map canvas. Jadi fitur 3D ini menjadi native pada versi QGIS 3.0 ini. Menarik bukan?. Selamat bereksplorasi..!