Tulisan ini sekedar penuangan pemikiran berkaitan dengan membuat peta. Dari pengalaman tahun lalu (2016) dan tahun sebelumnya (2015), entah kenapa hasil perkuliahan pemetaan dan SIG dimana penulis turut mengajar, selalu pada bagian akhir yang berupa peta masih belum baik hasilnya. Dasar-dasar pemetaan, kartografi, SIG dikelas jelas sudah diberikan, secara teoritis dari hasil ujian juga cukup baik.  Namun peta yang dihasilkan diakhir perkuliahan masih jauh dari harapan. Oleh karena itu penulis mencoba menguraikan beberapa hal yang kurang lebih penting dan diperlukan untuk dapat menjadi  pembuat peta/kartografer/senimanpeta yang baik.

 

Sebagian peta-peta itu

Pertama, untuk dapat menghasilkan peta yang bagus diperlukan pemahaman atas pengetahuan (konsep dasar) dan keterampilan (skill). Tentu saja pengetahuan yang dimaksud disini adalah kartografi, selain itu karena pada zaman ini tidak lepas dengan komputer dengan segala pernak-perniknya, maka diperlukan juga pengetahuan dibidang ini, ditambah dengan pengetahuan terkait seni grafis. Selain itu, karena secara operasional diperlukan keterampilan, maka untuk dapat membuat peta yang baik, seseorang dituntut untuk memiliki terampil mengoperasikan komputer, perangkat lunak yang digunakan untuk desain dan layout peta, olah dan editing grafis dan seterusnya. Penguasaan teori-teori saja, tanpa punya kemampuan nyata mengimplementasikan pada pengerjaan desain dan layout peta, itu tidaklah yang dikehendaki disini. Bayangkanlah, ada suatu layer data yang perlu dimasukkan ke dalam peta, namun masih perlu didigitasi terlebih dahulu. Namun, seseorang hanya tahu teori georeference saja, operasionalnya dikomputer tidak menguasai. Tentu ini menjadi kendala yang serius bukan?.

Kedua, bidang ini terkait dengan Geografi dengan SIG-nya. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, konsep dasar mengenai representasi fenomena geografis dan prinsip-prinsip yang ada dalam SIG juga dipahami. Dengan demikian penggambaran informasi ke dalam peta dapat sesuai dengan kaidah. Paling tidak mengetahui kapan menggunakan simbol titik, garis atau poligon ketika merepresentasikan sesuatu fenomena itu. Serta jenis-jenis data format SIG yang ada. Karena dalam menyusun sebuah peta, seringkali digunakan data dari berbagai sumber dan formatnya beragam. Ini memerlukan proses konversi dan standarisasi. Tanpa memahami Geografi dan juga SIG, anda akan kesulitan menangani hal ini. Kemudian terkait dengan visualisasi, saat ini telah banyak perangkat lunak penunjang,  oleh karena itu konsep dan operasionalnya perlu juga dipahami agar tidak salah merepresentasikan informasi ke dalam peta apabila anda dituntut menggunakannya.

Ketiga, perlu imajinasi, unsur artistik, daya kreativitas.  Untuk menghasilkan peta yang sesuai pakem kartografi yang mudah dibaca, dimengerti untuk keperluan dan tujuan yang berbeda-beda diperlukan unsur-unsur tersebut. Karena kalau sudah berkecimpung dibidang kartografi, peta-peta yang dihasilkan tidak hanya untuk kelengkapan laporan praktikum, skripsi, tesis dan jurna ilmiah saja. Bahkan ukuran cetak, media cetaknya dapat bervariasi sesuai dengan permintaan orang memesan ya. Anda tidak bisa membatasi diri hanya menerima desain dan layout peta ukuran A4 untuk dicetak dikertas plain (HVS) saja bukan?. Anda bisa ditertawai banyak orang…

Keempat, pemula dibidang ini, atau yang baru belajar, umumnya tidak tekun, tidak sabar, kurang berlatih, kurang detil dan kurang teliti. Seperti yang telah penulis uraikan pada bagian pertama, keterampilan akan tumbuh pesat dengan tekun berlatih, tekun melakukan eksplorasi, mengkombinasikan berbagai teknik olah grafis misalnya. Beberapa siswa penulis terindikasi kurang tekun, tidak sabar, kurang berlatih, kurang detil dan kurang teliti ini.  Perlu ingat juga bahwa mendesain dan melayout peta untuk dicetak pada kertas ukuran A0 tidak akan sama effortnya dengan melayout peta yang untuk dicetak pada kertas A4. Karena semakin besar ukuran media cetak peta, anda dituntut untuk mampu mendesain, membuat layout dengan kedetilan lebih dibandingkan untuk peta yang ukuran media pencetakannya lebih kecil. Ambil contoh sederhana saja, pemilihan ukuran huruf (fonts). Anda tidak bisa menggunakan ukuran huruf  yang digunakan pada judul peta ukuran A4 untuk dipakai untuk judul peta ukuran A0, ini jelas tidak proporsional. Kemahiran anda dalam mengatur proporsi, komposisi hanya akan terasa dengan banyak berlatih. Dan tidak ada loncatan kuantum atau shortcut dimana bisa membuat anda mahir hanya dalam semalam saja :). Kemudian, jangan segan-segan minta orang lain menilai hasil yang telah anda capai. Dengan begitu ada yang mengkritisi karya anda tersebut. Dari situlah anda dapat mengetahui dibagian mana kekurang peta yang telah dihasilkan. Apabila ada bagian peta yang anda kurang teliti mengerjakannya, tentu akan dengan mudah diketahui. Jadi, jangan hanya disimpan peta-peta hasil desain dan layout anda itu. Biarkan orang lain melihat, membaca dan menilainya. Jangan anti terhadap masukkan dan kritik. Anggap saja semua masukkan dan kritik pedas sekalipun adalah bagian dari proses pembelajaran anda menjadi mahir.

Kelima, terbuka terhadap ide baru. Ide-ide baru ini hanya dapat diperoleh dengan banyak membaca, melihat dan mempelajari peta karya orang lain. Bukan dalam maksud menjiplak karya-karya orang lain tersebut secara utuh. Paling tidak itu bisa menjadi sarana update pengetahuan serta wawasan terkait teknik, teknologi dan juga trend terbaru.

Keenam, pengelolaan waktu dan stress. Penulis memasukkan aspek ini karena pada dunia pekerjaan riil, sering kita dikejar oleh target-target oleh atasan ataupun klien. Jadi pengelolaan waktu dan stres perlu. Pemula perlu belajar mengelola waktu dan tekanan. Untuk mengelola waktu, misalnya dengan membuat urutan/prioritas, peta-peta mana saja yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Selain itu, anda juga bisa membuat urutan pengerjaan dari tingkat kerumitan atau waktu yang diberikan kepada anda untuk menyelesaikannya. Ingat, jangan dikiran pekerjaan membuat peta tidak bisa membuat stress hehehe.  Anda bisa stress jika pesanan peta banyak dari klien atau atasan banyak, namun anda tidak cukup cakap mengelola waktu dan mengerjakannya sehingga pada muaranya berantakan. Tentu hal semacam itu tidak kita harapkan.

Pada awalnya saya tidak menyangka dapat dengan mudahnya menampilkan informasi yang ada dalam GoogleMaps, BingMaps, OpenStreetMap Layers dan lainya dalam lingkungan Quantum GIS. Kemudian saya menemukan plugin OpenLayers yang dikembangkan Soucepole. Selepas menginstall dan mengaktifkan plugin tersebut maka akan ada menu baru di Quantum GIS bernama Web. Didalamnya terdapat beberapa sub-menu yang merujuk pada GoogleMaps, BingMaps, OpenStreetMap seperti berikut ini:

Menu plugin Openlayers ketika ditampilkan

Ketika anda memasukkan shapefile yang sudah dalam sistem koordinat UTM serta meliput suatu area, kemudian misalnya memilih sub-menu Google Maps > Google Satellite, bila anda terkoneksi dengan internet maka selang beberapa saat akan muncul tampilan citra satelit area tersebut. Tentu saja sesuai dengan ketersediaan citra yang diupload oleh Google untuk aplikasi GoogleMaps ataupun GoogleEarth-nya itu. Berikut ini contohnya:

Contoh tampilan citra yang muncul setelah memilih Google Satellite

Informasi koordinatnya langsung ada. Sehingga apabila anda hendak melakukan digitasi suatu obyek dari tampilan citra yang muncul itu dapat mudah saja. Anda juga dapat melakukan perbesaran (Zoom In), kalau ketersediaan citra satelit yang telah disiapkan oleh Google beresolusi tinggi, maka anda pun akan dapat melihatnya, misalnya seperti tampilan berikut ini:

Contoh tampilan citra setelah perbesaran (Zoom In)

Anda masih dapat memperbesar (Zoom In) lagi sampai misalnya skala 1:1000 karena kebetulan citra yang disiapkan oleh Google untuk daerah itu resolusinya tinggi. Berikut ini contoh hasil yang diperoleh:

Tampilan citra yang tersedia dalam skala 1:1000

Secara keseluruhan saya berpendapat bahwa plugin OpenLayers yang ada untuk Quantum GIS ini sangat membantu dan performanya bagus. Anda dapat dengan cepat melihat kondisi suatu area dari citra yang tersedia dengan bantuan shapefile dan plugin tersebut. Hanya agar plugin OpenLayers dapat berfungsi optimal perlu koneksi internet yang kencang agar ketika pindah atau geser lokasi, tampilan citranya juga cepat mengikuti. Selamat mencoba!.

Selepas UTS ternyata ada sedikit waktu luang untuk menyiapkan bahan perkuliahan. Alhasil utak-atik data-data SRTM yang dapat diunduh dari sini. Kemudian melakukan visualisasi dengan mengikuti tutorial disini. Hasilnya mengejutkan, berikut hasil yang saya dapatkan:

3d_01

Hasil visualisasi SRTM

Untuk melihat hasil seperti diatas hanya perlu web browser saja, tidak perlu melakukan installasi perangkat lunak lain. Selamat mencoba!