Archive for July 2012

Menyambung sebelumnya. Ada yang lebih maju lagi, jadi mereka yang sudah mengenal peta. Tetapi masih belum pada pemahaman yang membuatnya mudah dimengerti orang. Ini menurut saya saja. Jadi begini, beberapa waktu lalu ketika saya sedang singgah di warung sate madura. Entah karena apa, ada kejadian dimana saya didatangi 2 turis, mengakunya dari Rusia. Tanpa basa-basi bertanya arah menuju salah satu pusat penjualan komputer di Denpasar. Dia bilang bingung dengan denah yang diberikan orang. Ketika itu dia sambil menyodorkan buku saku begambar denah lokasi yang dituju, kira-kira maunya orang yang menggambar denah seperti itu. Tapi ini mengejutkan saya, soalnya denah itu hanya sepenggal garis, nampaknya itu maksudnya jalan Diponegoro, Denpasar, dan di sisi kirinya ada kotak menyimbolkan lokasi salah satu pusat penjualan komputer. Tanpa menunjukkan arah. Okey ini masih bisa diterima, tetapi hal ini masih menyesatkan 2 turis itu. Kenapa?

Bagaimana tidak, saya di warung sate jalan W.R. Supratman, jauh dari jalan Diponegoro. Terang saja mereka nyasar-nyasar. Sudah pasti bukan native di sini, yakin belum hafal jalan, kok hanya diberi denah seperti itu?. Mengapa tidak digambarkan denah dari suatu tempat yang dia tahu, atau yang paling logis dari mana dia bertanya arah?. Nah, orang yang memberikan denah itu, menurut saya sudah sedikit mengenal ruang, cuma orientasi dan ke dalamnya masih perlu lebih ditingkatkan. Dalam benak saya, common sense, ketika saya ditanya arah menuju suatu lokasi, saya akan mulai dari tempat dimana dia berdiri bertanya. Jadi akhirnya dihalaman lain buku saku itu saya gambar denah menuju jalan Diponegoro dari jalan W.R Supratman. Dia girang, dibilang ini detil dan lengkap. Ha jelas, rute yang harus dia lalui saya tandai, landmark yang perlu dia kenali saya tunjukkan, orientasi arah saya beri tahu. Sesederhana itu saja kok sebenarnya.

Menurut saya, secara psikologis ketika orang bertanya arah menuju lokasi, itu kondisi bingung dan tidak tahu. Kalau tahu, mana mungkin tanya. Jadi buatlah informasi itu sederhana, tidak bertele-tele tapi jelas, pakailah tanda yang mudah dimengerti. Misalnya gunakan landmark yang membantu membuat informasi sederhana anda jelas. Contoh, patung, tugu, atau yang lain asal khas di daerah itu. Kalau di Bali, ada patung Dewa Ruci, itu sudah pasti daerah yang orang sebut Simpang Siur, kalau terus ke selatan ke arah Jimbaran dan Nusa Dua, dekat Mall Bali Galeria. Kalau di Jakarta ada Monas, sebelahnya ada jalan Merdeka, dekat stasiun Gambir. Sedangkan di Yogyakarta ada Tugu, kalau ke selatan itu jalan P. Mangkubumi, menuju stasiun Tugu dan Malioboro. Sesuaikan saja dengan lokasi anda berada dan arah yang dituju. Jangan menunjukkan jalan Diponegoro, Denpasar itu dari Simpang Siur, padahal orang yang bertanya itu jumpa dengan anda di W.R Supratman, itu sama saja membuat blunder lagi. Apa yang saya sampaikan Itu sebagai gambaran saja, intinya adalah petunjuk kita harus dapat mempermudah, bukan memperumit lagi (bersambung)

Tulisan ini terinspirasi oleh kejadian yang membuat saya heran sebenarnya. Awalnya sih tidak, tetapi karena berulang kali hal yang sama ini terulang, maka keheranan itu semakin menguat. Baiklah, saya ada pertanyaan sederhana, dan tolong anda jawab dengan jujur. Simpan jawaban itu didalam benak anda. Apakah menurut anda semua orang saat ini sudah mengenal peta dengan lebih baik? . Kalau jawaban pertanyaan ini ya, berarti dengan perkataan lain peta sudah lebih memasyaakat dibandingkan 1 dekade yang lalu. Seberapa baik anda mengenal peta?.

Pada awal saya memasuki bangku kuliah di akhir tahun 90-an, belum terbayang akan ada Online Map yang begitu powerfull seperti GoogleMap, BingMap, kemudian belum terbayang akan ada ArcGIS server dan MapServer. Bagaimana tidak?, waktu itu di kampus, saya masih menggunakan PC Arc/Info 3.5.1 di Laboratorium Sistem Informasi Geografis. Terinstall dengan lisensi hardware key atau saya menyebutnya keyplug di mesin 486 dx.

Kalau jawaban pertanyaan dimuka tadi adalah tidak, maka dalam kurang lebih satu dekade ini, perkembangan peta stagnan saja. Dalam ragam bahasa lain, ya segitu-gitu saja. Tapi ini tampak tidak benar. Saat ini, keberadaan GoogleMap, BingMap, OpenStreetMap saya yakin mempengaruhi orang untuk mengenali tempat yang relatif dengan keberadaan dirinya, atau untuk mencari tempat/lokasi dan itu artinya juga berfikir keruangan. Dalam satu dekade saja, perkembangan sudah luar biasa menurut saya. Apa lagi kalau dibandingkan dengan beberapa abad yang lampau. Terlalu jauh perbandingan itu, tidak imbang. Tengok saja sejarah abad penjelajahan samudera misalnya, sudah pasti peta belumlah seperti sekarang. Peta juga masih sesuatu yang langka, bahkan kalangan tertentu saja yang tahu.

Pesatnya perkembangan dalam satu dekade terakhir ini, saya pikir anda juga akan sepakat kalau ini karena teknologi komputer. Teknologi itulah yang memacu perkembangan laju informasi. Dulu berkirim informasi dengan surat misalnya, dari Surabaya ke Jakarta, bisa memakan waktu berhari-hari. Kemudian ada teknologi telegram, fax, berkembang lagi ke surat elektronik (e-mail). Sekarang saja, kalau anda berkirim surat elektronik, diltombol “Send” yang ada di layar laptop anda, makan dalam beberapa detik kemudian, sahabat anda yang sedang studi di Amerika Serikat langsung bisa menerima dan membacanya. Tidak heran, smartphone seperti iPhone, Blackberry sudah sangat canggih menangani hal ini. Jadi didetik yang tidak lama, surat elektronik itu sampai.

Sama seperti dalam dunia perpetaan, mengggambarkan suatu lokasi dengan informasi yang rinci, bisa memakan waktu yang sangat lama. Beberapa dekade terakhir, banyak sekali satelit yang mengorbit Bumi kita ini yang diluncurkan khusus untuk memotret dan memantau keadaan permukaan. Jadi untuk mendapatkan gambaran suatu kota, jepretan dari luar angkasa itu menghasilkan foto satelit beresolusi tinggi. Ambil contoh, QuickBird, menghasilkan gambar yang resolusinya 0,5 meter. Anda bisa hitung jumlah mobil disuatu tempat parkir dengan citra ini.

Dahsyat. Iya memang. Itulah teknologi yang sekarang ini, bagaimana satu dekade mendatang?. Kalau saya ditanya, saya juga tidak tahu. Okey, dari abad lalu, dekade lalu banyak perkembangan, banyak perubahan, tetapi kalau anda jeli mengamati, ada sesuatu bagian yang tidak berubah. Yaitu esensi peta itu sendiri. Teknologi itu hanyalah alat bantu, tetapi esensi pemahaman ruang itu ada pada komponen people (orang).

Ketika komponen yang ini tidak mampu memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, menurut saya kecanggihan itu tak berguna. Seperti sesuatu yang sia-sia. Seperti kejadian yang tidak hanya sekali saya alami. Beberapa teman, orang yang saya jumpai, masih mengalami kebingungan arah. Padahal, digenggamannya ada smartphone yang kategori paling mutahir, ada GPS didalamnya. Mungkin bagi sebagian cara pandang lain yang diluar saya, menganggap itu hal lumrah. Kalau ditegur, beralasan tidak tahu, tidak mengerti. Tapi bukankah ini cukup serius?, karena ini suatu indikator kalau waktu membeli alat komunikasi itu tidak tahu spesifikasi dan kegunaannya. Atau memang belum sempat eksplorasi gadget tersebut, walaupun tiap saat selalu digunakan. Dalam kasus seperti ini saya menganggap mereka belum mengenal, apa lagi memanfaatkannya (bersambung)

Sebelum saya melanjutkan seri artikel interpolasi dengan perangkat lunak lain, mengapa kesan memikirkan metode interpolasi ini dengan seksama begitu kuat?. Karena dalam perspektif saya, yang dihasilkan nanti harus benar-benar dapat merepresentasikan kondisi sebenarnya. Saya sering menyebutnya sebagai real world. Akan ada keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan antara proses analisis (interpolasi), hasil dan kegunaannya. Singkatnya begini, hasil analisis akan menjadi informasi didalam peta, jadi bila itu salah, maka itu berarti memberikan informasi yang keliru kepada pengguna peta. Ini berbahaya.

Yang saya yakini selama ini adalah berfikir spasial/keruangan, berfikir dengan peta. Peta menjadi sarana/alat untuk membantu saya melihat ruang yang luas. Think spatially, think with map. Oleh sebab peta itu menghubungkan orang, pengetahuan dan dunia nyata. Map is linking people, knowledge and real world. Ketiganya ini saling terkait. Saya (orang), dengan wawasan geografi saya (knowledge) dapat memahami dunia nyata (real world) dengan bantuan peta (map). Atau anda juga bisa mengartikan dengan bantuan peta (map), anda (people) dapat menggunakan wawasan anda (knowledge) untuk memahami dunia nyata (real world). Itulah.

Kalau hasil interpolasi keliru, yang harusnya digambarkan sebagai lembah, terbalik, menjadi bukit dan sebaliknya bisa fatal. Keputusan, kebijakan pengelolaan atau apa saja yang mendasarkan pada informasi peta itu bisa salah. Maka disetiap analisis keruangan, ada kegiatan ground check.