Archive for August 2012

Biogeography is the study of the distribution of species (biology), organisms, and ecosystems in geographic space and through geological time (Wikipedia).

Apa itu?. Ini adalah studi dan bagaimana memahami distribusi spesies, organisme dan ekosistem dalam perspektif spasial. Itulah apa yang saya dapatkan dari definisi di atas. Apakah itu penting? . Tentu saja penting. Saya baru saja ingat topik diskusi dengan seorang pria yang unik di Bogor beberapa pekan lalu. Meskipun itu sebuah diskusi konyol pada awalnya, tetapi ketika saya fokus pada topik, saya menyadari bahwa ia berbicara tentang sesuatu yang berharga. Jadi, cerita ini merupakan adaptasi dari pengalaman saya tersebut.

Pada awal topik, kita bahas tentang mengapa GIS penting. Mengapa kita perlu GIS hari ini dan bagaimana jika GIS tidak ada. Ada banyak lelucon hanya untuk menjelaskan mengapa GIS diperlukan. Dia bekerja terutama untuk pertanian di masa lalu karirnya. Jadi dia berbicara tentang tanaman dan perikanan. Dan nampaknya dia itu sarat pengalaman. Ini adalah tentang pemilihan lokasi untuk tanaman yang cocok untuk ditanam di lokasi tertentu. Dia bertanya kepada saya tentang bagaimana GIS dapat membantu untuk menemukan daerah terbaik untuk jenis tanaman, apakah ini bisa atau tidak. Nah, saya menjelaskan tentang analisis pemilihan lokasi dengan menggunakan pendekatan GIS untuk menjawab pertanyaannya. Tentang analisis memerlukan beberapa informasi seperti jenis tanah, kemiringan, geologi, data curah hujan dan lain-lain. Lalu dia berkata, “Ok, saya dapat mengerti  konsep itu”.

Dia tidak berhenti di sini. Kemudian terus melanjutkan pembicaraan dari menjelaskan pohon mangga, pohon pisang, pohon kelapa, dan lain-lain serta  bagaimana untuk mengembangbiakan tanaman itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Lalu tiba-tiba dia berkata, ” sebenarnya GIS telah digunakan oleh nenek moyang kami untuk pemilihan lokasi Apakah Anda. Yakin tentang hal itu?”, Ia bertanya kepada saya. Saya memberinya senyum sederhana di awal tanggapan saya dan berkata, “Jelaskan kepada saya apa pikiran Anda”. Pada waktu itu saya mencoba untuk terlihat sopan dan pasang muka penuh ingin tahu tentang topik itu. Meskipun, saya tidak yakin dengan  topik yang akan diangkat selanjutnya. Ya .., wajar, diskusi itu menjelang tengah malam dan saya sudah agak mengantuk. Sebenarnya saya ingin dia segera menyelesaikan kisahnya dan kembali ke kamar hotel. Saya tidak ingin melewatkan waktu sahur karena besok masih puasa.

Dia mengatakan, “nenek moyang kami tidak tahu GIS, tetapi mereka menggunakan perspektif GIS untuk menemukan tempat yang cocok untuk tanaman mereka”. “Dengar, mereka menggunakan asosiasi antara tanaman dan lingkungannya itu”, dia melanjutkan penjelasannya. “Mereka melihat tanaman di lokasi tertentu di mana ia cocok, dan melihat lingkungan sekitarnya”. Di sini, kata-katanya membuat saya begitu penasaran, dan saya berkata, “dan kemudian apa?, Bisa Anda lanjutkan penjelasan Anda?”. Dengan senyum yang sederhana kemudian dia melanjutkan. Nampaknya dia senang karena sudah sukses membuat saya begitu penasaran. “Nenek moyang kita, mereka melihat tanaman di lokasi tertentu di mana  yang telah cocok, melihat lingkungan sekitarnya dan menggunakan pengetahuan ini untuk mengembang biakan atau menumbuhkan tanaman ini di tempat lain, mereka berusaha mencari lokasi dengan situasi yang sama”. “Jadi, mereka belajar tentang hubungan lingkungan dan tanaman kemudian menggunakannya sebagai pengetahuan untuk pengembangan pertanian mereka”. “Mereka tahu tentang cara menanam padi, jagung dan di mana tempat yang cocok bagi mereka tanaman sejak berabad-abad yang lalu”. “Waktu itu tidak ada GIS bukan.?”. dia kemudian bertanya kepada saya.

“Itu adalah Biogeografi”, saya berkata sebagai respon penjelasannya. Lalu saya melanjutkan kata-kata saya “Pada awal studi di Fakultas Geografi, saya mendapat Biogeografi sebagai salah satu mata kuliah”. Biogeografi adalah studi tentang distribusi spesies (biologi), organisme, dan ekosistem dalam ruang geografis dan melalui waktu geologi. “Tapi, tanpa GIS, bisakah kita lebih mudah untuk memahami apa yang nenek moyang kita pikir dan pergunakan pada waktu itu?, Saya bertanya kepadanya. “Mungkin, selamanya kita akan mengatakan nenek moyang kita menggunakan mantra sihir, dan tidak menyadari bahwa itu adalah pendekatan ilmiah dan kita bisa mempelajarinya”. Dari ekspresi wajahnya, nampaknya dia kaget dengan kalimat saya barusan, namun kemudian tersenyum simpul.

Pada akhir diskusi, kami sepakat bahwa GIS membantu kita untuk memvisualisasikan, untuk membuat lebih mudah memahami kompleksitas antara lingkungan dan fenomena yang timbul didalamnya dan juga membantu kita untuk menganalisis untuk mendapatkan apa yang  disebut sebagai jawaban.

Jelas sudah, bahwa GIS diperlukan dan bisa dikombinasikan dengan pengetahuan lain dalam rangka mencari sesuatu yang disebut sebagai jawaban tadi. Sepakat..?

Berikut ini sekedar ingin sharing dari banyak pengalaman terkait membuat peta, khususnya layout peta. Bagi yang menekuni bidang seperti saya pasti mengalami hal yang serupa. Bahwa proses membuat layout peta itu bukan sim salabim.. dan saat itu diminta, 5 menit kemudian selesai. Meskipun datanya sudah ada, komputer/laptop sudah tinggal dipakai. Mengapa demikian?. Membuat layout peta itu seperti orang bekerja dengan desain.

Secara teknis proses itu dapat mudah dipelajari, banyak buku yang telah membahas tentang membuat layout peta baik itu di ArcGIS, ArcView GIS 3.x, bahkan beberapa waktu lalu ditoko buku saya melihat tentang Quantum GIS. Namun mengapa menjadi tidak mudah?. Sebenarnya hal ini kalau ditelaah sama dengan desain grafis. Tengok saja dirak toko-toko buku, ada berapa macam buku yang membahas mengenai desain grafis dengan Corel Draw, Adobe Illustrator, Adobe Photoshop? Sudah banyak sekali. Tetapi apakah setelah menguasai semua langkah dibuku itu jadi juara desain grafis dan 5 menit setiap desain dapat diselesaikan?. Hmm, saya rasa tidak.

Yang sering terjadi dan membuat lama tidak  karena faktor teknis, namun karena peta tadi juga diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi visual, butuh proses desain, tidak bisa dibuat asal-asalan. Kaidah-kaidah kartografi juga harus diikuti. Apalagi, peta itu dipesan dengan kriteria desain tertentu. Tentu ini prosesnya akan lebih lama.

Selain itu, ukuran layout juga akan mempengaruhi waktu pengerjaan. Mengerjakan peta dengan layout kertas A4 dengan A0 jelas berbeda. Mengapa?, dalam pemilihan ukuran huruf (fonts) dan pemilihan tebal garis saja sudah beda. Semua juga harus disesuaikan dengan proporsi ruang kertas yang tersedia.

Diakhir, ukuran baik dan tidaknya desain peta, seperti halnya desain grafis, relatif. Namun, ukuran saya adalah ketika peta itu sesuai dengan keinginan pemesan, kemudian pihak ke-3 atau diluar pemesan dan anda sebagai yang membuat layoutnya (kartografer-nya) dapat mendapatkan informasi dari membaca peta anda, tidak menjadi kebingungan, atau kesulitan karenanya, berarti peta anda itu tadi sudah sesuai, meet the target. Kalau dipuji karena hal-hal yang lain itu bonus, levelnya exceed the target.  Bila banyak orang berkomentar peta yang anda buat susah dimengerti, kalau buat saya pribadi ini indikator, harus belajar lebih giat lagi untuk dapat menghasilkan peta yang berkualitas itu.