7

Aug 12

Membuat Layout Peta, Mudah ?

Berikut ini sekedar ingin sharing dari banyak pengalaman terkait membuat peta, khususnya layout peta. Bagi yang menekuni bidang seperti saya pasti mengalami hal yang serupa. Bahwa proses membuat layout peta itu bukan sim salabim.. dan saat itu diminta, 5 menit kemudian selesai. Meskipun datanya sudah ada, komputer/laptop sudah tinggal dipakai. Mengapa demikian?. Membuat layout peta itu seperti orang bekerja dengan desain.

Secara teknis proses itu dapat mudah dipelajari, banyak buku yang telah membahas tentang membuat layout peta baik itu di ArcGIS, ArcView GIS 3.x, bahkan beberapa waktu lalu ditoko buku saya melihat tentang Quantum GIS. Namun mengapa menjadi tidak mudah?. Sebenarnya hal ini kalau ditelaah sama dengan desain grafis. Tengok saja dirak toko-toko buku, ada berapa macam buku yang membahas mengenai desain grafis dengan Corel Draw, Adobe Illustrator, Adobe Photoshop? Sudah banyak sekali. Tetapi apakah setelah menguasai semua langkah dibuku itu jadi juara desain grafis dan 5 menit setiap desain dapat diselesaikan?. Hmm, saya rasa tidak.

Yang sering terjadi dan membuat lama tidak  karena faktor teknis, namun karena peta tadi juga diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi visual, butuh proses desain, tidak bisa dibuat asal-asalan. Kaidah-kaidah kartografi juga harus diikuti. Apalagi, peta itu dipesan dengan kriteria desain tertentu. Tentu ini prosesnya akan lebih lama.

Selain itu, ukuran layout juga akan mempengaruhi waktu pengerjaan. Mengerjakan peta dengan layout kertas A4 dengan A0 jelas berbeda. Mengapa?, dalam pemilihan ukuran huruf (fonts) dan pemilihan tebal garis saja sudah beda. Semua juga harus disesuaikan dengan proporsi ruang kertas yang tersedia.

Diakhir, ukuran baik dan tidaknya desain peta, seperti halnya desain grafis, relatif. Namun, ukuran saya adalah ketika peta itu sesuai dengan keinginan pemesan, kemudian pihak ke-3 atau diluar pemesan dan anda sebagai yang membuat layoutnya (kartografer-nya) dapat mendapatkan informasi dari membaca peta anda, tidak menjadi kebingungan, atau kesulitan karenanya, berarti peta anda itu tadi sudah sesuai, meet the target. Kalau dipuji karena hal-hal yang lain itu bonus, levelnya exceed the target.  Bila banyak orang berkomentar peta yang anda buat susah dimengerti, kalau buat saya pribadi ini indikator, harus belajar lebih giat lagi untuk dapat menghasilkan peta yang berkualitas itu.

4 Comments

  1. Frenchy says:

    Super informative wiirtng; keep it up.

  2. Whats up very nice site!! Man .. Excellent .. Wonderful .. I’ll bookmark your website and take the feeds additionally…I’m glad to search out so many helpful info right here in the publish, we’d like work out extra techniques in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  3. admin says:

    Benar sekali paman, pekerjaan ini bukan main-main. Saya nulis ini karena sempat mengalami kejadian diburu-buru tuk menyelesaikan beberapa peta dalam waktu yang mepet, hasilnya menurut saya kurang maksimal. Dan beberapa waktu lalu saat sedang bekerja di sebuah warnet dibilangan Jakal, liat ada yang sedang melayout peta, pemilihan warna dan tata letaknya masih menyakitkan mata. Saya tergelitik, jadi saya menunjukkan satu peta yang pernah saya buat, tuk sekedar memancing inspirasinya menyelesaikan pekerjaannya itu.

  4. Antyo says:

    Untuk kepentingan khalayak ramai, peta bikinan tim kartografis National Geographic bule itu menurut saya bagus.
    Kartografi memang bukan kerjaan main-main, makanya ada sekolahnya, dan Gunther Woltorf menyerahkan penerapan hasil surveinya ke kartografer.
    Pencetakannya setahu saya juga gak bisa main-main, gak cukup asal offset empat warna.
    Dari sisi dunia grafika, dulu salah satu lembaga yang punya alat cetak litografi bagus adalah Dinas Pemetaan TNI-AD. :)
    Tak semua sekolah seni rupa saat itu punya alat litografi.
    Tipografi peta? Duh siapa yang peduli karena kalau kita lihat atlas yang dijual di toko dan kaki lima itu cara menulis nama sungai dan gunung saja bisa semaunya.

Leave a Reply