Archive for April 2013

The Geostatistical Analyst uses sample points taken at different locations in a landscape and creates (interpolates) a continuous surface. The sample points are measurements of some phenomenon such as radiation leaking from a nuclear power plant, an oil spill, or elevation heights. The Geostatistical Analyst derives a surface using the values from the measured locations to predict values for each location in the landscape (ESRI, 2001).

Topik analisis geostatistikal di ArcGIS ini memang langka terdengar dari sekitar saya. Entah kenapa ya?. Menurut referensi yang saya baca-baca dan belum semuanya selesai, dalam interpolasi ada 2 macam teknik. Metode pertama adalah deterministik, kemudian yang kedua adalah geostatistikal. Keduanya bergantung pada kesamaan sampel titik terdekat untuk membuat model fenomena kebumian itu. Metode deterministik menggunakan fungsi matematis untuk interpolasi, disisi lain metode geostatistikal menggunakan statistik dan juga fungsi matematis yang dapat digunakan untuk membuat model fenomena kebumian dan mengevaluasi ketidakpastian prediksi-prediksi yang dilakukan.

Menurut saya ini menarik untuk dipelajari. Sebab, mungkin selama ini model representasi fenomena kebumian ini jarang diukur akurasinya. Misalnya ketika membuat DEM (Digital Elevation Model), katakanlah untuk membantu interpretasi bentuklahan dari Citra Satelit. Logikanya bila DEM-nya akurat, interpretasi bentuklahannya akan banyak terbantu. CMIIW..

Sedang curious dan  nampaknya menarik melakukan eksplorasi menggunakan 2 metode tadi. Cuma belum dapat data. Saya sedang mencari data intensitas curah hujan sungguhan. Sederhana saja, ingin melihat pola sebaran dari interpolasi intensitas curah hujan. Tentu saja ini dituntut punya data tersebut  secara series. Nantinya digunakan untuk melihat apakah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ada perubahan di Kota ini (DIY). Nanti hasilnya dituliskan diblog. Disisi lain, ada rekan yang mengajak ekplorasi image segmentation. Waduh.., sabar-sabar. Semakin banyak PR.

 

hml1

Source: after Hohl (1998)

Tiba-tiba teringat tentang keterkaitan antara kualitas, kecepatan dan harga dalam perolehan data spasial sewaktu kuliah S1 dahulu. Jadi didalam kegiatan perolehan data spasial, ada trade off antara kualitas, kecepatan dan harga. Penjelasannya kurang lebih begini: kita bisa memperoleh data spasial dengan kualitas tinggi, prosesnya cepat tetapi akan memiliki konsekuensi pada biaya yang tinggi. Misalnya jika kita membeli citra satelit beresolusi tinggi. Ambil contoh saja citra Quick Bird, Ikonos, GeoEye.

Penjelasan lain misalnya begini: anda bisa melakukan digitasi kontur dari peta topografi yang meliput Propinsi Jawa Tengah, misal skala 1:25.000 dengan presisi tinggi, namun kecepatan digitasi anda lambat. Oleh sebab itu apabila seseorang hendak meminta hasil digitasi anda tersebut, mengingat anda bersusah payah melakukannya, banyak lembar peta yang harus anda digitasi, kemudian anda meminta kompensasi sejumlah nominal tertentu, ya to?. Capek soalnya..

Jadi sebuah kewajaran apabila data spasial berkualitas tinggi, diperoleh dengan waktu yang cepat, harganya mahal. Bisa pula dipahami pula bahwa kalau data itu kualitasnya rendah, diperoleh dengan waktu yang singkat, kemudian harganya murah atau malah dikasih label gratis. Bisa pula dipahami bahwa untuk mengumpulkan data berkualitas tinggi, butuh waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit.

Menurut saya pemahaman ini penting dalam dunia nyata  pekerjaan dan penelitian. Karena besar dan kecilnya dukungan keuangan, kemudian alokasi waktu yang ada untuk pengerjaan sering menjadi kendala didalam perolehan data yang berkualitas. Terkait hal ini kita memang dituntut harus cermat menyesuaikan antara ketiganya. Ini semua dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan  hasil pekerjaan dan penelitian yang hendak dicapai.

 

Kemarin secara tidak sengaja membaca artikel yang ditulis Brandon B. Brown yang dimuat disini. Akhirnya saya hanya bisa komentar itu inspiratif sekali. Ia menggunakan beberapa kutipan Zen, seperti :

“In all things, success depends on previous preparation, and without such previous preparation there is sure to be failure “,

“Water which is too pure has no fish”,

“Eliminate what does not matter to make more room for what does”,

“No flower ever sees the seed “,

dan lain sebagainya.

Setelah saya menelusuri, ternyata Zen itu adalah sebuah aliran dalam suatu agama. Lebih jelasnya ada disini. Saya tidak hendak membahas hal-hal spiritualnya. Ini terkait apa yang bisa saya dapatkan dari tulisan tersebut.

Yang bisa saya dapat dari tulisan Brandon itu adalah bagaimana seseorang bisa terinspirasi oleh sesuatu, kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan, pekerjaan dll. Sesuatu yang menurut saya tidak mudah. Misalnya begini, mungkin banyak yang bisa bertutur soal GIS, namun tak semuanya memiliki kemampuan menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. GIS sebagai tools untuk menyelesaikan problematika spasial. Dan, dari artikel Brandon itu, saya menarik pelajaran penting, sesuatu yang sederhana itu bisa menjadi sesuatu yang berguna. Yang rumit-rumit lagi sukar, belum tentu dapat berguna. Terakhir, saya menduga ia memiliki semagat GIS yang tinggi.., hidup dengan GIS..