26

Oct 15

Mengembangkan Kartografi Digital: Menuangkan konsep dan kaidah lama dengan cara dan teknologi baru

Setelah cukup lama absen menulis, izinkan tulisan berikut ini sebagai tanda kehadiran tulisan saya kembali. Mudah-mudahan topiknya tidak terlalu berat buat para pembaca .

Seperti para pembaca ketahui saat ini, kartografi tak luput dari tantangan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Anda pasti sudah tahu bahwa semua produk kebanyakan telah dikemas secara digital. Ini memang sudah laju dari zaman. Bahkan satu dekade lalu, tak terbayang kalau dapat pesan ojek lewat gawai (gadget) bukan?. Demikian pula aplikasi yang menggunakan peta juga belum semasif sekarang.Pada saat itu peta masih lebih banyak disimpan dalam bentuk hardcopy dan pemanfaatannya belumlah seperti saat ini.

Kembali pada kartografi, pertanyaan yang mungkin menyeruak dipermukaan apakah kartografi masih relevan saat ini??. Menurut saya, masih dong..

Beberapa kalangan mungkin memiliki persepsi “dangkal” dan masih merujuk bahwa kartografi ya aktivitas dengan kertas kalkir, meja gambar, rapidograph, penggaris dll. Kuno ya??. Disisi lain, beberapa kalangan memiliki persepsi bahwa kartografi hanyalah sekedar cara membuat peta bisa saja menjadi salah satu topik dari bidang geomatika lain. Tidak terlalu penting lagi.

Sementara itu, mungkin ada yang “kebablasan”. Karena eranya sudah digital kemudian tidak penting lagi, jadi menganggap berpegang pada kaidah dasar kartografi adalah kuno. Misalnya membuat peta penggunaan lahan sebuah desa kecil disuatu kecamatan dengan mengambil data dari citra Landsat, atau membuat peta jenis tanah suatu desa dengan menurunkannya dari peta jenis tanah skala tinjau. Main tabrak kaidah.

Perubahan pada bidang kartografi memang sudah sewajarnya dan para ahli dibidang ini telah merumuskannya. Saya dapat mengatakan bahwa perubahan yang ada dalam kartografi seiring perkembangan teknologi informasi hanya pada aspek kemasan saja. Filosofi, karakteristik, prinsip-prinsipnya tetaplah sama. Konsistensi, kebenaran dan keterbacaan dalam menyampaikan informasi kartografis tetaplah menjadi karakteristik penting. Meskipun penggunaan produk-produk kartografis ini seiring perkembangan teknologi informasi menjadi lebih luas.

Sedikit kembali menegaskan pengertian. Menurut saya kartografi tradisional, merepresentasikan permukaan bumi pada bidang gambar dengan skala melalui proyeksi dan dibingkai dalam suatu sistem koordinat, dengan penggunaan simbol-simbol yang beragam untuk merepresentasikan informasi baik yang berdimensi titik, garis dan poligon. Sedangkan Automatic Cartography atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Otomasi Kartografi adalah penghubung antara kartografi tradisional dengan Kartografi numerik/digital. Perlunya reproduksi kembali peta-peta produk kartografi sebelumnya dalam bentuk hardcopy ke format digital dengan digitasi atau konversi raster ke vektor untuk memenuhi kebutuhan geodata pada kartografi numerik/digital memerlukan otomasi ini.

Kemudian disisi lain, Kartografi numerik/digital menggunakan karakteristik metrik dan kualitatif yang ada pada Kartografi tradisional dan merepresentasikan dalam struktur penyimpanan data, visualisasi data dalam berbagai skala. Jadi dalam pengertian ini jelas sekali bahwa pada kartografi digital konsepnya tidak berubah. Tetap saja dalam kartografi digital representasi dari informasi juga harus benar dalam aspek planimetrik, plano-altimetric maupun secara 3D-nya. Selain itu aspek dasar seperti konsistensi dalam merepresentasikan informasi, reliabilitas dalam menyampaikan informasi yang sebenarnya dan aspek keterbacaan atau kemudahan untuk diinterpretasi tetap menjadi kriteria penilaian kualitas produk kartografi digital ini.

Menurut saya, justru karena saat ini sudah canggih baik itu peralatan surveinya, komputer yang digunakan untuk pengolahan, kemudian sumber data penginderaan jauh yang lebih memadai bahkan hingga plotternya sudah hebat merepresentasikan warna-warna sehingga tidak perlu kuatir saat mendisain simbol dan color scheme untuk peta, tantangan pada sisi kedetilan dan kualitas produk kartografi semakin tinggi.Perlu diingat kembali bahwa kualitas tidak hanya pada yang terlihat sebagai tampilan visual saja.

Ada baiknya mengingat kembali bahwa setidaknya ada 3 tingkatan cara memperoleh data spasial untuk keperluan kartografi digital, yaitu:

  1. survey langsung menggunakan instrumen topografis, gps dan lain sebagainya
  1. interpretasi data penginderaan jauh dan proses fotogrametrik
  1. digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya

Oleh karena itu, dalam aktivitas kartografi digital, seseorang harus paham betul tiap-tiap tingkatan diatas dan implikasinya pada kualitas data. Termasuk pada kesesuaian kedetilan informasi dan kedalaman informasi dengan skala peta yang hendak disajikan. Masihkah ingat dengan Tobler (1987) yang menyatakan bahwa bagi penyebut skala peta dengan 1000 untuk mendapatkan ukuran (dalam satuan meter) yang dapat dideteksi, maka resolusi spasial sumber data yang digunakan adalah setengahnya. Menurut saya ini sungguh fundamental. Karena dari situ peneliti selanjutnya menjadi sadar bahwa resolusi spasial sumber data sangat penting untuk diperhatikan. Lihat saja tabel dibawah ini sebagai perkembangannya.

Screen Shot 2015-10-26 at 10.29.39 AM                       Diadaptasi dari McCoy (1995)

Ambil saja contoh, digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya untuk keperluan kartografi digital, perlu disadari bahwa dalam proses tersebut kemungkinan terjadi penurunan presisi dapat terjadi. Kemudian, seberapa besar kesalahan grafis yang diperbolehkan dan masih dapat diterima ? Misalnya digitasi ulang garis kontur, apakah kesalahan grafis 0.2 mm karena heterogenitas kenampakan pada peta yang sedang didigitasi ulang tersebut dan karena tipisnya garis itu dapat diterima atau dapat ditolerasi?

Lebih jauh lagi, kita semua menyadari bahwa didunia nyata, kondisi alam ini sangat kompleks dan banyak sekali detilnya. Peta harus dapat secara strategis dibuat dengan generalisasi untuk mengurangi detail, mengelompokkan fitur dan dapat lebih menonjolkan informasi yang menjadi fokus peta tersebut. Metode generalisasinya perlu yang sesuai, bila tidak makan kita dapat kehilangan informasi yang justru terpenting dan menjadi fokus. Semua serba digital, klik-klik diperangkat lunak makan proses generalisasi dapat dilakukan dari data digital sumbernya. Namun apakah hasilnya telah sesuai?

Screen Shot 2015-10-26 at 10.11.58 AM                                         Sumber: Kryger dan Wood (2005)

Dan yang sebenarnya, dengan memanfaatkan keunggulan teknologi, dalam kartografi digital kita dapat merepresentasikan informasi dalam peta interaktif. Sesuatu yang sangat terbatas untuk dapat dilakukan pada kartografi tradisional. Disini kita dapat menggunakan teknik animasi untuk menampilkan informasi menurut perubahan waktu (temporal) dan juga untuk menampilkan informasi yang sifatnya dinamis.

Sebagai tambahan, karena kartografi digital produknya salah satunya berupa peta digital dan mudah sekali untuk disebarluaskan melewati jaringan internet, maka aspek legal, copyright/hak ciptanya bagaimana?. Jadi perlu sekali dibuat semacam persetujuan atau kesepakatan bersama yang mengatur hal ini.

Inilah pentingnya prinsip-prinsip dasar tetap dipegang walaupun eranya sudah kartografi digital.Kemudian ditambah dengan kaidah baru yang menunjang kondisi saat ini. Misalnya, melihat kemampuan mata manusia memisahkan garis, membedakan warna, kira-kira berapa resolusi peta yang cocok untuk ditampilkan di webgis, atlas digital?. Kemudian format penyimpanannya dalam Tiff, JPEG, png atau format apa yang sesuai?. Inilah tantangan di era sekarang..

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini. Perlunya kiat-kiat kreatif untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas produk kartografi digital ini. Selain tipis sekali sekat antara bidang kartografi digital dengan bidang geomatika lain yang sama-sama menggunakan bentuk peta digital sebagai produk akhir. Kartografi digital harus dapat menempatkan dirinya sebagai representasi konsep awal kartografi namun tetap fleksibel dalam mengadopsi teknik dan teknologi yang berkembang saat ini. Dengan demikian peta produk kartografi digital tidak kehilangan ciri khas sebagai produk seni, ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Seperti definisi kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Jadi peta yang ditampilkan tak sekedar keluaran sebuah proses SIG semata, atau hasil PCD dan interpretasi citra penginderaan jauh. Namun peta yang dengan seksama dirancang, didesain sedemikian rupa untuk dapat berinteraksi dengan penyimak dan pembacanya sebagai bagian dari mata rantai komunikasi.

Pustaka:

Gomarasca, M.A.2009.Basics of Geomatics. Springer:Milan

Jan Kraak, M., Ormeling, F.2010.Cartography:Visualization of Geospatial Data (3rd edition).Pearson Education Limited:England

Krygier, J., Wood, D. 2005.Making Maps, A Visual Guide to Map Design for GIS. The Guilford Press: New York.

McCloy, Keith R., 1995. Resource Management Information Systems : Process and Practice. Taylor & Francis, Inc: London.

Tobler, Waldo. 1987. Measuring Spatial Resolution. Proceedings, Land Resources Information Systems Conference, Beijing, pp. 12-16.

No comments yet, be the first.

Leave a Reply