17

Nov 15

Hillshading

Sebenarnya tulisan ini adalah bagian dari materi yang saya sampaikan dikelas SIG. Tetapi ada baiknya juga untuk dipaparkan disini. Topiknya adalah analisis menggunakan DEM (Digital Elevation Model), lebih spesifiknya ke hillshading.

Hillshading membuat penampilan tiga dimensi dengan efek pencahayaan sehingga visualisasi relief dapat lebih jelas sehingga mempermudah analisis. Selain itu, menurut saya hillshading secara kartografis menambah kuat kesan relief dan membuat visualisasi tiga dimensi itu lebih bercitarasa seni.

merapi_hs

Hillshading Seputaran Gunung Merapi dan Merbabu dari data SRTM90

Lebih jauh lagi, efek pencahayaan ini diatur melalui nilai azimuth dan altitude. Azimuth merujuk pada arah datang sinar/sumber cahaya dimana 0 berarti arah datang sinar/sumber cahaya dari utara, 90 berarti dari arah timur, kemudian 180 berarti dari arah selatan, demikian seterusnya. Sementara itu, altitude merujuk pada sudut datang sinar menuju atau mengarah obyek. Kalau sinar datang tepat diatas obyek atau tegak lurus obyek berarti altitude-nya adalah 90 derajad, kemudian 45 derajad berarti sinar datang miring dan seterusnya. Sederhana bukan?.

Efek pencahayaan ini menurut saya dashyat. Bagi yang sedang mengkaji geomorfologi, akan merasakan sensasi visualisasi fitur menjadi lebih tajam. Misalnya hendak melakukan interpretasi pola aliran (drainage pattern), relief, bahkan bentuklahan akan menjadi berkali-kali lebih mudah dibandingkan hanya melihat garis kontur yang terpampang dilayar monitor komputer.

Bagaimana membuat hillshading ini?. Sebenarnya jika sudah punya data SRTM ini mudah sekali dilakukan. Misalnya kalau anda menggunakan ArcGIS, didalam ToolBox – 3D analyst tools, anda dapat menemukan tool raster surface kemudian menujulah ke hillshade. Tetapi, jika anda tidak punya apa-apa, langkah kerjanya jadi lebih panjang. Anda perlu mencari peta topografi, kemudian mendigitasi konturnya atau titik-titik ketinggiannya. Nanti, dari data itu baru dapat dibangun DEM (Digital Elevation Model) dari sebuah TIN. Setelah DEM anda miliki dapat dikonversi ke raster surface dan langkah yang saya sebutkan diatas dapat digunakan.

Kalau bosan dengan penampilan menggunakan ArcMap, anda dapat memvisualisasikan hillshading itu dengan ArcScene. Dengan kemampuan ArcScene, hillshading yang telah anda buat dapat tampil lebih interaktif lagi.

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

 

Kunci untuk mendapatkan visualisasi yang bagus adalah pengaturan altitude, azimuth dan juga VE (Vertical Exaggeration). Namun, dibalik itu semua yang utama terlebih dahulu adalah resolusi DEM yang anda gunakan. Resolusi DEM tadi menjadi kunci pokok untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu, sebaiknya jangan menampilkan area diluar yang menjadi fokus. Ini akan membuat proses menjadi lebih ringan. Maklum, untuk visualisasi dalam tiga dimensi (3D), diperlukan resource komputer yang lebih dibandingkan dengan hanya sekedar dua dimensi (2D). Selamat mencoba dan bereksplorasi.

No comments yet, be the first.

Leave a Reply