22

Feb 16

Cerita dari 50 peta

Pada akhir semester gasal, saya mendapatkan wawasan yang cukup menarik dan memberikan pembelajaran, apalagi ini erat kaitannya dengan desain dan layout peta. Cerita dari pengalaman menjadi semacam dosen tamu inilah yang hendak saya paparkan disini. Berawal dari tugas perkuliahan, dimana dari lebih dari 50 peta yang saya periksa, ternyata ada kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya.

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Awalnya, saya berharap mendapatkan lebih dari 50 peta yang variatif pada desain dan layoutnya meskipun terbatas dalam tema-tema yang telah disepakati. Tema yang disepakati yaitu terkait kependudukan dan kesesuaian permukiman terhadap kemiringan lereng dan terbagi untuk beberapa wilayah administrasi yang berbeda-beda. Jadi kemungkinan untuk mendapatkan peta dengan tema yang sama untuk wilayah administrasi yang sama akan cukup jarang. Terlebih dibebaskan untuk membuat desain dan layout peta tersebut sebaik-baiknya agar mudah dibaca dan dipahami. Tetapi kenyataan tidak sesuai harapan. Dari tema yang disepakati itu saya mendapatkan peta dengan wilayah administrasi yang kebanyakan sama. Bahkan dengan desain dan layout petanya pun mirip sekali.

Bagi saya kejadian itu menambah keyakinan bahwa desain dan layout peta itu punya identitas. Mengingat secara alami orang punya kecederungan yang tidak 100% sama satu dengan yang lainnya. Setiap orang akan punya kecenderungan berbeda terkait pemilihan warna, bentuk-bentuk geometri dan mengkombinasikan keduanya. Ingat psikotest?, itu ada test pengenalan bentuk-bentuk geometri juga bukan??. Jadi, sederhananya kalau anda melihat dua peta atau lebih dengan tema yang sama tetapi desain dan layout mirip sekali dengan identitas senimanpeta berbeda, ada kemungkinan salah satu atau salah dua dan seterusnya mengikuti desain dan layout satunya atau memang ada kesepakatan untuk bersama-sama menggunakan desain dan layout tertentu.

Kemudian, dari sekitar 50 peta lebih yang telah saya observasi, rata-rata mempunyai kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya juga relatif sama. Kesalahan umumnya terletak pada penulisan judul peta, secara spesifik yaitu ukuran font yang tidak proporsional, kemudian skala batang yang angka-angkanya tidak diatur agar mudah dibaca, selanjutnya penggunaan frame/bingkai yang garisnya ketebalannya juga tidak proporsional dan masih banyak lagi. Menurut saya, kesalahan-kesalahan itu terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa peta juga merupakan sarana komunikasi. Dari sisi tersebut, desain dan layout peta yang saya periksa itu masih belum mampu menjadi sarana komunikasi itu. Bisa saya katakan masih berpusat pada si pembuatnya (senimanpetanya), belum sampai pada bisa berbagi informasi kepada orang lain. Untuk mencapai tingkatan peta yang didesain dapat “berbicara” kepada orang lain memang perlu banyak latihan dalam mendisain dan melayout tadi sehingga peta mampu memuat pesan yang mudah dimengerti sehingga pada akhirnya seolah-olah dapat “berbicara” kepada pembaca atau pemirsanya. Saya juga masih terus berlatih kok.

Mungkin saya terlalu banyak berharap, namun dari pengalaman satu semester tersebut, menyadarkan saya bahwa proses transfer of knowledge itu cukup kompleks. Tidak semudah membalikkan telapak tangan hehehe. Terlebih, mungkin juga dipengaruhi faktor gaya anak sekarang yang ingin serba cepat, instant, copy paste dan modifikasi dikit membuat kreativitas kurang mekar. Atau memang benar kalimat laboran lab yang saya sering mampir, “hati dan pikiran anak jaman sekarang sudah diambil yang lain”, maksudnya fokus dan ketekunannya udah pindah ke aktivitas gadget, untuk selfie dll.