Archive for the ‘experience’ Category

Pada akhir semester gasal, saya mendapatkan wawasan yang cukup menarik dan memberikan pembelajaran, apalagi ini erat kaitannya dengan desain dan layout peta. Cerita dari pengalaman menjadi semacam dosen tamu inilah yang hendak saya paparkan disini. Berawal dari tugas perkuliahan, dimana dari lebih dari 50 peta yang saya periksa, ternyata ada kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya.

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Awalnya, saya berharap mendapatkan lebih dari 50 peta yang variatif pada desain dan layoutnya meskipun terbatas dalam tema-tema yang telah disepakati. Tema yang disepakati yaitu terkait kependudukan dan kesesuaian permukiman terhadap kemiringan lereng dan terbagi untuk beberapa wilayah administrasi yang berbeda-beda. Jadi kemungkinan untuk mendapatkan peta dengan tema yang sama untuk wilayah administrasi yang sama akan cukup jarang. Terlebih dibebaskan untuk membuat desain dan layout peta tersebut sebaik-baiknya agar mudah dibaca dan dipahami. Tetapi kenyataan tidak sesuai harapan. Dari tema yang disepakati itu saya mendapatkan peta dengan wilayah administrasi yang kebanyakan sama. Bahkan dengan desain dan layout petanya pun mirip sekali.

Bagi saya kejadian itu menambah keyakinan bahwa desain dan layout peta itu punya identitas. Mengingat secara alami orang punya kecederungan yang tidak 100% sama satu dengan yang lainnya. Setiap orang akan punya kecenderungan berbeda terkait pemilihan warna, bentuk-bentuk geometri dan mengkombinasikan keduanya. Ingat psikotest?, itu ada test pengenalan bentuk-bentuk geometri juga bukan??. Jadi, sederhananya kalau anda melihat dua peta atau lebih dengan tema yang sama tetapi desain dan layout mirip sekali dengan identitas senimanpeta berbeda, ada kemungkinan salah satu atau salah dua dan seterusnya mengikuti desain dan layout satunya atau memang ada kesepakatan untuk bersama-sama menggunakan desain dan layout tertentu.

Kemudian, dari sekitar 50 peta lebih yang telah saya observasi, rata-rata mempunyai kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya juga relatif sama. Kesalahan umumnya terletak pada penulisan judul peta, secara spesifik yaitu ukuran font yang tidak proporsional, kemudian skala batang yang angka-angkanya tidak diatur agar mudah dibaca, selanjutnya penggunaan frame/bingkai yang garisnya ketebalannya juga tidak proporsional dan masih banyak lagi. Menurut saya, kesalahan-kesalahan itu terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa peta juga merupakan sarana komunikasi. Dari sisi tersebut, desain dan layout peta yang saya periksa itu masih belum mampu menjadi sarana komunikasi itu. Bisa saya katakan masih berpusat pada si pembuatnya (senimanpetanya), belum sampai pada bisa berbagi informasi kepada orang lain. Untuk mencapai tingkatan peta yang didesain dapat “berbicara” kepada orang lain memang perlu banyak latihan dalam mendisain dan melayout tadi sehingga peta mampu memuat pesan yang mudah dimengerti sehingga pada akhirnya seolah-olah dapat “berbicara” kepada pembaca atau pemirsanya. Saya juga masih terus berlatih kok.

Mungkin saya terlalu banyak berharap, namun dari pengalaman satu semester tersebut, menyadarkan saya bahwa proses transfer of knowledge itu cukup kompleks. Tidak semudah membalikkan telapak tangan hehehe. Terlebih, mungkin juga dipengaruhi faktor gaya anak sekarang yang ingin serba cepat, instant, copy paste dan modifikasi dikit membuat kreativitas kurang mekar. Atau memang benar kalimat laboran lab yang saya sering mampir, “hati dan pikiran anak jaman sekarang sudah diambil yang lain”, maksudnya fokus dan ketekunannya udah pindah ke aktivitas gadget, untuk selfie dll.

 

 

Tulisan berikut ini berawal dari mengamati kecenderungan pertanyaan disebuah group diskusi GIS, ternyata selalu ada yang terkait ketersediaan data spasial. Utamanya adalah adalah permintaan citra satelit beresolusi tinggi, permintaan untuk dibagi shapefile suatu wilayah, baik itu layer administrasi, sungai dan sebagainya. Kebanyakan permintaan tersebut adalah untuk penelitian (skripsi/tesis). Saya belum dapat mengidentifikasi adakah yang bertujuan terkait untuk proyek berprofit. Selain itu, tulisan ini juga terinspirasi penelitian rekan dimana ditengah perjalanan ada banyak perubahan dan penyesuaian karena resolusi data spasial yang dimilikinya  tidak sesuai dengan kebutuhan penelitian tersebut.

Dari peristiwa itu, saya sempat merenung. Ada banyak pertanyaan yang menjadi konsen saya dalam renungan tadi. Kemudian, pada akhirnya dari banyak pertanyaan yang berputar-putar dikepala,  dapat disederhanakan dan mengkerucut menjadi 3 (tiga) saja. Pertama, ini terkait citra resolusi tinggi. Saya berfikiran apakah seseorang yang bertanya itu tidak menyadari bahwa citra resolusi tinggi itu punya price atau harga?. Artinya, tidak dapat diperoleh utuh tanpa menebus biaya ke provider citra satelit tersebut. Disisi lain, suatu institusi, person yang memiliki (dulunya tentu dengan membeli), apakah akan secara suka rela membagi citra satelit resolusi tinggi itu dengan cuma-cuma?. Dalam hal-hal khusus,  suatu instansi memang ada yang bersedia berbagi dengan mahasiswa yang penelitian dengan syarat-syarat tertentu atau prosedur tertentu. Tetapi kadang persoalannya adalah liputan yang diperlukan tidak selalu tersedia bukan?. Bagaimana ini kemudian?. Saya kini mengajak anda semua berfikir…

Yang kedua, terkait dengan shapefile. Saya memiliki pertanyaan sederhana, apakah seseorang yang meminta dibagi shapefile itu sudah berupaya untuk mendapatkannya pada data provider yang terkait?. Misalnya kalau itu Peta Rupa Bumi, sudahkah rekan-rekan kontak publishernya kemudian mengikuti prosedur untuk mendapatkannya?. Tidak semua data memang tersedia, bahkan ada yang perlu untuk dicari sendiri, dikumpulkan dan didigitasi sendiri. Kalau melakukan pengumpulan data sendiri memang akan makan biaya dan waktu yang ditanggung sendiri. Nominal biaya bisa besar atau kecil tergantung dengan jenis data, banyaknya data yang diperlukan. Iya memang, data spasial itu berharga dan kenyataannya demikian adanya. Ketiga, apakah sebelum pelaksanaan penelitian atau kegiatan yang memerlukan data spasial itu telah dipikirkan dengan cermat spesifikasi dan sumber data spasial tersebut ?.

Selanjutnya bagaimana?. Sebaiknya begini, tanamkan dalam sanubari bahwa kedua hal yang telah dibicarakan diatas merupakan sebuah proses. Karena yang sebenarnya adalah pengumpulan data adalah bagian dari proses SIG itu sendiri. Saya bahkan mengibaratkan pengumpulan data adalah bagian dari siklus daur hidup dalam SIG. Sungguh penting, sehingga ada baiknya sebelum masuk ke dalam penelitian atau kegiatan yang memerlukan data spasial maka sumber data dan cara perolehannya dipikirkan secara matang terlebih dahulu. Just in case kalau datanya memang belum ada dan anda tidak sanggup untuk memetakkannya sendiri, tidak kemudian macet ditengah jalan penelitiannya atau kegiatannya itu. Bagi yang skripsi/tesis kemudian macet karena data, akan berdampak pada waktu studi, kalau semester depan tidak selesai, membayar spp lagi bukan?.  Demikian juga yang memiliki kegiatan dengan menggunakan data spasial. Pikirkanlah hal itu…

Akhir kata, dengan berawal dari menyadari pengumpulan data merupakan bagian dari proses SIG, dan harus dilalui, kemudian memikirkan secara cermat mengenai cara perolehan data spasial itu sebelum penelitian ataupun kegiatan dimulai, saya pikir dapat membantu meminimalisir adanya hambatan ditengah jalan. Bahkan ada baiknya bila sebelum memulai sesuatu, desain dulu penelitian anda lengkap dengan data requirements secara sistematis. Selamat bekerja..

Duduk-duduk dan berbincang-bincang seringkali dianggap buang waktu. Tetapi penilaian itu kurang tepat. Karena penilaian itu tidak merinci mengenai orang yang diajak berbincang dan topik yang diperbincangkan. Mari kita tinggalkan pendapat itu. Karena yang saya ingin sampaikan disini adalah sebuah hasil perbincangan semata.

Ada sekitar 1 jam saya duduk-duduk dan berbincang-bincang dengan sesama mahasiswa master degree. Walau tidak satu jurusan, tetapi topik yang diperbincangkan sama. Maklum saja yang duduk-duduk itu sesama mahasiswa dalam tahap menyelesaikan tesis. Berlatar belakang pendidikan S1 yang berbeda, kemudian dunia kerja yang berbeda memperbincangkan topik tersebut.

Awalnya mengenai masalah teknis. Salah satu rekan mengalami kesulitan membuat pie chart di ArcGIS. Kemudian ada yang bergabung lagi kemudian duduk sambil mengerjakan peta bentuklahan, ada yang duduk sambil menyelesaikan naskah tesis dan ada yang duduk sambil sesekali menyambung dan menimpali perbincangan. Akhirnya berkembang merambah mengenai topik data spasial dan analisis spasial dan statistik.

Singkat kata, bagian pertama dan paling dirasakan terkait data spasial adalah tahap perolehan data (data acquisition). Entah itu dari field survey, diturunkan dari data penginderaan jauh, wawancara ataupun dari data atribut. Sepakat, tahap ini memang akan menyita banyak waktu dan tenaga. Bahkan sering muncul kendala-kendala teknis dan non-teknis yang menyertainya. Untuk memperoleh data yang diperlukan itu bisa memakan waktu yang lama dan memerlukan perhatian, penanganan dan ketekunan khusus. Tergantung, semakin spesifik umumnya akan memerlukan itu semua. Ketersediaan data dengan akurasi dan ketelitian yang sesuai dengan tema penelitian itu menjadi terasa sangat penting.

Bagian kedua, terkait dengan analisis spasialnya. Kalau core analysis-nya caranya tidak dikuasai, keilmuannya/metodenya tidak dikuasai, ini akan menjadikan proses terhambat. Beberapa rekan yang tidak menguasai perangkat lunak GIS dengan baik akibatnya terkendala pula pada tahapan ini. Jadi penguasaan teknis dan konsep harus berjalan beriringan. Bagus kalau bisa menguasai dibanyak bagian, tetapi minimal pada bagian yang diperlukan dalam penelitian tersebut dikuasai.

Kemudian pada bagian ketiga adalah penyajian hasil. Beberapa rekan menyadari bahwa penyajian hasil ini mempunyai peran penting, utamanya saat digunakan dalam pelaporan dan juga presentasi. Mereka tahu hasil yang didapatkan itu bagus, tetapi jika salah dalam mengemas, maka akan tampak biasa saja. Ah ini ibarat mobil Ferrari tetapi cat-nya pakai cat semprot biasa.

Perbincangan itu memberikan penegasan bahwa ketersediaan data, penguasaan analisis dan penyajian hasil adalah satu kesatuan.