Archive for the ‘map’ Category

Sebenarnya tulisan ini adalah bagian dari materi yang saya sampaikan dikelas SIG. Tetapi ada baiknya juga untuk dipaparkan disini. Topiknya adalah analisis menggunakan DEM (Digital Elevation Model), lebih spesifiknya ke hillshading.

Hillshading membuat penampilan tiga dimensi dengan efek pencahayaan sehingga visualisasi relief dapat lebih jelas sehingga mempermudah analisis. Selain itu, menurut saya hillshading secara kartografis menambah kuat kesan relief dan membuat visualisasi tiga dimensi itu lebih bercitarasa seni.

merapi_hs

Hillshading Seputaran Gunung Merapi dan Merbabu dari data SRTM90

Lebih jauh lagi, efek pencahayaan ini diatur melalui nilai azimuth dan altitude. Azimuth merujuk pada arah datang sinar/sumber cahaya dimana 0 berarti arah datang sinar/sumber cahaya dari utara, 90 berarti dari arah timur, kemudian 180 berarti dari arah selatan, demikian seterusnya. Sementara itu, altitude merujuk pada sudut datang sinar menuju atau mengarah obyek. Kalau sinar datang tepat diatas obyek atau tegak lurus obyek berarti altitude-nya adalah 90 derajad, kemudian 45 derajad berarti sinar datang miring dan seterusnya. Sederhana bukan?.

Efek pencahayaan ini menurut saya dashyat. Bagi yang sedang mengkaji geomorfologi, akan merasakan sensasi visualisasi fitur menjadi lebih tajam. Misalnya hendak melakukan interpretasi pola aliran (drainage pattern), relief, bahkan bentuklahan akan menjadi berkali-kali lebih mudah dibandingkan hanya melihat garis kontur yang terpampang dilayar monitor komputer.

Bagaimana membuat hillshading ini?. Sebenarnya jika sudah punya data SRTM ini mudah sekali dilakukan. Misalnya kalau anda menggunakan ArcGIS, didalam ToolBox – 3D analyst tools, anda dapat menemukan tool raster surface kemudian menujulah ke hillshade. Tetapi, jika anda tidak punya apa-apa, langkah kerjanya jadi lebih panjang. Anda perlu mencari peta topografi, kemudian mendigitasi konturnya atau titik-titik ketinggiannya. Nanti, dari data itu baru dapat dibangun DEM (Digital Elevation Model) dari sebuah TIN. Setelah DEM anda miliki dapat dikonversi ke raster surface dan langkah yang saya sebutkan diatas dapat digunakan.

Kalau bosan dengan penampilan menggunakan ArcMap, anda dapat memvisualisasikan hillshading itu dengan ArcScene. Dengan kemampuan ArcScene, hillshading yang telah anda buat dapat tampil lebih interaktif lagi.

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

 

Kunci untuk mendapatkan visualisasi yang bagus adalah pengaturan altitude, azimuth dan juga VE (Vertical Exaggeration). Namun, dibalik itu semua yang utama terlebih dahulu adalah resolusi DEM yang anda gunakan. Resolusi DEM tadi menjadi kunci pokok untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu, sebaiknya jangan menampilkan area diluar yang menjadi fokus. Ini akan membuat proses menjadi lebih ringan. Maklum, untuk visualisasi dalam tiga dimensi (3D), diperlukan resource komputer yang lebih dibandingkan dengan hanya sekedar dua dimensi (2D). Selamat mencoba dan bereksplorasi.

Setelah cukup lama absen menulis, izinkan tulisan berikut ini sebagai tanda kehadiran tulisan saya kembali. Mudah-mudahan topiknya tidak terlalu berat buat para pembaca .

Seperti para pembaca ketahui saat ini, kartografi tak luput dari tantangan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Anda pasti sudah tahu bahwa semua produk kebanyakan telah dikemas secara digital. Ini memang sudah laju dari zaman. Bahkan satu dekade lalu, tak terbayang kalau dapat pesan ojek lewat gawai (gadget) bukan?. Demikian pula aplikasi yang menggunakan peta juga belum semasif sekarang.Pada saat itu peta masih lebih banyak disimpan dalam bentuk hardcopy dan pemanfaatannya belumlah seperti saat ini.

Kembali pada kartografi, pertanyaan yang mungkin menyeruak dipermukaan apakah kartografi masih relevan saat ini??. Menurut saya, masih dong..

Beberapa kalangan mungkin memiliki persepsi “dangkal” dan masih merujuk bahwa kartografi ya aktivitas dengan kertas kalkir, meja gambar, rapidograph, penggaris dll. Kuno ya??. Disisi lain, beberapa kalangan memiliki persepsi bahwa kartografi hanyalah sekedar cara membuat peta bisa saja menjadi salah satu topik dari bidang geomatika lain. Tidak terlalu penting lagi.

Sementara itu, mungkin ada yang “kebablasan”. Karena eranya sudah digital kemudian tidak penting lagi, jadi menganggap berpegang pada kaidah dasar kartografi adalah kuno. Misalnya membuat peta penggunaan lahan sebuah desa kecil disuatu kecamatan dengan mengambil data dari citra Landsat, atau membuat peta jenis tanah suatu desa dengan menurunkannya dari peta jenis tanah skala tinjau. Main tabrak kaidah.

Perubahan pada bidang kartografi memang sudah sewajarnya dan para ahli dibidang ini telah merumuskannya. Saya dapat mengatakan bahwa perubahan yang ada dalam kartografi seiring perkembangan teknologi informasi hanya pada aspek kemasan saja. Filosofi, karakteristik, prinsip-prinsipnya tetaplah sama. Konsistensi, kebenaran dan keterbacaan dalam menyampaikan informasi kartografis tetaplah menjadi karakteristik penting. Meskipun penggunaan produk-produk kartografis ini seiring perkembangan teknologi informasi menjadi lebih luas.

Sedikit kembali menegaskan pengertian. Menurut saya kartografi tradisional, merepresentasikan permukaan bumi pada bidang gambar dengan skala melalui proyeksi dan dibingkai dalam suatu sistem koordinat, dengan penggunaan simbol-simbol yang beragam untuk merepresentasikan informasi baik yang berdimensi titik, garis dan poligon. Sedangkan Automatic Cartography atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Otomasi Kartografi adalah penghubung antara kartografi tradisional dengan Kartografi numerik/digital. Perlunya reproduksi kembali peta-peta produk kartografi sebelumnya dalam bentuk hardcopy ke format digital dengan digitasi atau konversi raster ke vektor untuk memenuhi kebutuhan geodata pada kartografi numerik/digital memerlukan otomasi ini.

Kemudian disisi lain, Kartografi numerik/digital menggunakan karakteristik metrik dan kualitatif yang ada pada Kartografi tradisional dan merepresentasikan dalam struktur penyimpanan data, visualisasi data dalam berbagai skala. Jadi dalam pengertian ini jelas sekali bahwa pada kartografi digital konsepnya tidak berubah. Tetap saja dalam kartografi digital representasi dari informasi juga harus benar dalam aspek planimetrik, plano-altimetric maupun secara 3D-nya. Selain itu aspek dasar seperti konsistensi dalam merepresentasikan informasi, reliabilitas dalam menyampaikan informasi yang sebenarnya dan aspek keterbacaan atau kemudahan untuk diinterpretasi tetap menjadi kriteria penilaian kualitas produk kartografi digital ini.

Menurut saya, justru karena saat ini sudah canggih baik itu peralatan surveinya, komputer yang digunakan untuk pengolahan, kemudian sumber data penginderaan jauh yang lebih memadai bahkan hingga plotternya sudah hebat merepresentasikan warna-warna sehingga tidak perlu kuatir saat mendisain simbol dan color scheme untuk peta, tantangan pada sisi kedetilan dan kualitas produk kartografi semakin tinggi.Perlu diingat kembali bahwa kualitas tidak hanya pada yang terlihat sebagai tampilan visual saja.

Ada baiknya mengingat kembali bahwa setidaknya ada 3 tingkatan cara memperoleh data spasial untuk keperluan kartografi digital, yaitu:

  1. survey langsung menggunakan instrumen topografis, gps dan lain sebagainya
  1. interpretasi data penginderaan jauh dan proses fotogrametrik
  1. digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya

Oleh karena itu, dalam aktivitas kartografi digital, seseorang harus paham betul tiap-tiap tingkatan diatas dan implikasinya pada kualitas data. Termasuk pada kesesuaian kedetilan informasi dan kedalaman informasi dengan skala peta yang hendak disajikan. Masihkah ingat dengan Tobler (1987) yang menyatakan bahwa bagi penyebut skala peta dengan 1000 untuk mendapatkan ukuran (dalam satuan meter) yang dapat dideteksi, maka resolusi spasial sumber data yang digunakan adalah setengahnya. Menurut saya ini sungguh fundamental. Karena dari situ peneliti selanjutnya menjadi sadar bahwa resolusi spasial sumber data sangat penting untuk diperhatikan. Lihat saja tabel dibawah ini sebagai perkembangannya.

Screen Shot 2015-10-26 at 10.29.39 AM                       Diadaptasi dari McCoy (1995)

Ambil saja contoh, digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya untuk keperluan kartografi digital, perlu disadari bahwa dalam proses tersebut kemungkinan terjadi penurunan presisi dapat terjadi. Kemudian, seberapa besar kesalahan grafis yang diperbolehkan dan masih dapat diterima ? Misalnya digitasi ulang garis kontur, apakah kesalahan grafis 0.2 mm karena heterogenitas kenampakan pada peta yang sedang didigitasi ulang tersebut dan karena tipisnya garis itu dapat diterima atau dapat ditolerasi?

Lebih jauh lagi, kita semua menyadari bahwa didunia nyata, kondisi alam ini sangat kompleks dan banyak sekali detilnya. Peta harus dapat secara strategis dibuat dengan generalisasi untuk mengurangi detail, mengelompokkan fitur dan dapat lebih menonjolkan informasi yang menjadi fokus peta tersebut. Metode generalisasinya perlu yang sesuai, bila tidak makan kita dapat kehilangan informasi yang justru terpenting dan menjadi fokus. Semua serba digital, klik-klik diperangkat lunak makan proses generalisasi dapat dilakukan dari data digital sumbernya. Namun apakah hasilnya telah sesuai?

Screen Shot 2015-10-26 at 10.11.58 AM                                         Sumber: Kryger dan Wood (2005)

Dan yang sebenarnya, dengan memanfaatkan keunggulan teknologi, dalam kartografi digital kita dapat merepresentasikan informasi dalam peta interaktif. Sesuatu yang sangat terbatas untuk dapat dilakukan pada kartografi tradisional. Disini kita dapat menggunakan teknik animasi untuk menampilkan informasi menurut perubahan waktu (temporal) dan juga untuk menampilkan informasi yang sifatnya dinamis.

Sebagai tambahan, karena kartografi digital produknya salah satunya berupa peta digital dan mudah sekali untuk disebarluaskan melewati jaringan internet, maka aspek legal, copyright/hak ciptanya bagaimana?. Jadi perlu sekali dibuat semacam persetujuan atau kesepakatan bersama yang mengatur hal ini.

Inilah pentingnya prinsip-prinsip dasar tetap dipegang walaupun eranya sudah kartografi digital.Kemudian ditambah dengan kaidah baru yang menunjang kondisi saat ini. Misalnya, melihat kemampuan mata manusia memisahkan garis, membedakan warna, kira-kira berapa resolusi peta yang cocok untuk ditampilkan di webgis, atlas digital?. Kemudian format penyimpanannya dalam Tiff, JPEG, png atau format apa yang sesuai?. Inilah tantangan di era sekarang..

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini. Perlunya kiat-kiat kreatif untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas produk kartografi digital ini. Selain tipis sekali sekat antara bidang kartografi digital dengan bidang geomatika lain yang sama-sama menggunakan bentuk peta digital sebagai produk akhir. Kartografi digital harus dapat menempatkan dirinya sebagai representasi konsep awal kartografi namun tetap fleksibel dalam mengadopsi teknik dan teknologi yang berkembang saat ini. Dengan demikian peta produk kartografi digital tidak kehilangan ciri khas sebagai produk seni, ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Seperti definisi kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Jadi peta yang ditampilkan tak sekedar keluaran sebuah proses SIG semata, atau hasil PCD dan interpretasi citra penginderaan jauh. Namun peta yang dengan seksama dirancang, didesain sedemikian rupa untuk dapat berinteraksi dengan penyimak dan pembacanya sebagai bagian dari mata rantai komunikasi.

Pustaka:

Gomarasca, M.A.2009.Basics of Geomatics. Springer:Milan

Jan Kraak, M., Ormeling, F.2010.Cartography:Visualization of Geospatial Data (3rd edition).Pearson Education Limited:England

Krygier, J., Wood, D. 2005.Making Maps, A Visual Guide to Map Design for GIS. The Guilford Press: New York.

McCloy, Keith R., 1995. Resource Management Information Systems : Process and Practice. Taylor & Francis, Inc: London.

Tobler, Waldo. 1987. Measuring Spatial Resolution. Proceedings, Land Resources Information Systems Conference, Beijing, pp. 12-16.

Untuk membuat peta suatu lokasi tertentu seringkali banyak kendala. Misalnya tidak ada ketersediaan data yang memadai atau data-data yang ada sudah out of date dst. Namun, pada saat itu kita sangat memerlukan untuk membuat peta lokasi tersebut. Apa yang perlu dilakukan ?. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah yang akan saya uraikan berikut ini.

Cara ini menggandalkan Citra satelit yang dishare pada aplikasi Google Map/Google Earth, kemudian ditambah dengan site visit untuk melakukan GPS Survey. Saya membaginya dalam 2 proses. Proses pertama adalah murni pekerjaan di depan komputer, sebut saja studio work. Kemudian proses kedua adalah kombinasi fieldwork dengan studio work. Secara garis besar proses pertama ditunjukkan oleh gambar dibawah ini.

drawing-1-steps modified1

Setelah proses pertama selesai, maka anda perlu mempersiapkan diri untuk site visit. Jika lokasi yang hendak dibuat petanya itu jauh, maka segala keperluannya harus anda persiapkan secara matang. Saya tidak merincikan satu-persatu keperluan tersebut disini. Yang pasti pada bagian ini termasuk persiapan peralatan utama yaitu GPS. Adapun garis besar proses kedua ditunjukkan oleh Gambar 2.
Salah satu contoh hasil rangkaian proses pertama dan kedua tersebut adalah peta dibawah ini.

drawing-1-steps modified2

Kini, yang perlu anda ketahui dan sadari adalah peta tersebut memiliki beberapa aspek minus dan plus. Seperti, pertama aspek metrik, kalau saat anda mendigitasi kurang halus maka presisi obyek yang tergambar berkurang.Jadi untuk mengetahui informasi sangat detil seperti luasan persil lahan seseorang secara akurat, ukur tanah sangat direkomendasikan. Kedua,saat anda melakukan survei menggunakan GPS, keterangan dan koordinat obyek membantu meningkatkan akurasi peta. Keterangan dan koordinat yang didapat dari survei GPS ini penting utamanya saat anda mengisi data atribut dalam shapefile serta editing shapefile. Ketiga, karena belum tentu citra yang di upload di Google Map/Google Earth itu terbaru untuk lokasi yang sedang anda kerjakan, beberapa informasi mungkin tidak terliput didalamnya. Kesempatan saat site visit ini baiknya digunakan untuk menambah informasi itu. Berikut contoh hasil dari proses 1 dan 2 diatas.

ay_permukiman_blog modified

Nilai plus cara membuat peta ini, karena menggabungkan metode penginderaan jauh dan survei terpadu (walau tidak fully adopted), maka proses pembuatan peta terbilang singkat. Kalau cuma untuk membuat peta demi kepentingan reklame, brosur wisata yang tidak memerlukan detil tinggi, saya dapat bilang cara ini dapat diterima. Anda tidak perlu aerial photograph yang dibuat dengan menerbangkan Drone, Kite atau naik Gantole dst.Karena cara itu memerlukan keahlian dan pengalaman yang lebih tinggi.Terlepas dari itu semua, menurut pendapat saya secara semantik peta yang dibuat melalui proses 1 dan 2 tersebut, OK deh untuk memberikan informasi dasar kepada pemirsa.