Archive for the ‘map’ Category

Kali ini topik bahasannya adalah ukuran dan jenis kertas untuk peta.  Karena selain harus paham tentang warna, komposisi dll, seorang senimanpeta juga harus tahu ukuran dan jenis kertas sebagai media cetak peta-nya. Tidak perlu hafal semua ukuran kok. Paling tidak ada beberapa ukuran kertas ISO (standard internasional) yang perlu diketahui. Yaitu ukuran kertas ISO seri A. Itupun tidak perlu hafal semua kok. Yang perlu dihafal paling tidak 5 jenis ukuran kertas ISO seri A saja karena ukuran-ukuran itu sering digunakan. Sebut saja A0, A1, A2, A3 dan A4. Diantara ukurang itu A2 jarang sekali digunakan untuk printing dan jarang pula mencetak peta dengan ukuran lebih kecil dari A4. Yang paling sering digunakan untuk printing peta adalah kertas ukuran A0, A1, A3 dan A4. Seri A ini merupakan ukuran yang biasa digunakan untuk cetakan umum, perkantoran dan penerbitan.

Sebut saja A0 menjadi ukuran paling besar yang dapat diakomodasi printer atau plotter yang ada. Kemudian disusul oleh ukuran A1. Kantor-kantor yang mempunyai divisi perpetaan, biasanya memiliki plotter yang dapat mengakomodasi ukuran A0 dan A1 biar tidak repot. Kalau tidak punya biasanya harus melalui jasa provider jasa percetakan. Nah, untuk ukuran kertas A3 dan A4 printing biasa dapat dilakukan sendiri karena printer untuk mengerjakannya harganya relatif terjangkau sekarang. Peta-peta yang dicetak pada ukurang kertas A4 dan A3 biasanya digunakan sebagai pendamping laporan, album peta atau dokumen, karena ukurannya relatif kecil bisa sekaligus di jilid menjadi satu dengan naskah. Contohnya peta A4 yang dilampirkan pada naskah skripsi, tesis maupun desertasi. Atau, album peta ukuran kertas A3 dengan desain yang kompak. Sedangkan ukuran yang lebih besar seperti A0, A1 dan A2 biasa digunakan untuk peta dinding, untuk survei detil atau dokumen standar yang rinci menggambarkan informasi dsb.

Berikut ukuran kertas seri A yang telah saya sebutkan dimuka:

A0 → 841 mm x 1189 mm

A1 → 594 mm x 841 mm

A2 → 420 mm x 594 mm

A3 → 297 mm x 420 mm

A4 → 210 mm x 297 mm

Nah, mudahnya setiap angka setelah huruf A, menyatakan setengah ukuran dari sebelumnya. Misalnya ukuran kertas A1. Itu berarti ukurannya adalah ½ dari ukuran kertas A0. Ukuran A3 adalah ½ dari ukuran A2. Demikian.

Kemudian selanjutnya terkait jenis kertas. Yang sering digunakan untuk mencetak adalah Uncoated Paper. Kertas yang termasuk kategori  Uncoated diantaranya adalah kertas HVS, HVO, kertas koran, dll. Uncoated mempunyai sifat dengan daya penyerapan yang besar pada tinta dan hasil cetak tidak mengkilap (tidak glossy). Nah jenis kertas yang sebaliknya lazim disebut sebagai Coated paper. Jenis kertas yang termasuk coated antara lain : Art paper, coated paper,mat coated, cast coated, art karton, coated karton. Kalau mencetak brosur, flyer biasa di kertas jenis coated ini. Permukaannya halus dan mengkilap. Jenis-jenis kertas tadi bervariasi harganya. Penerapannya adalah menyesuaikan kebutuhan. Maksudnya antara lain adalah jangan mencetak dikertas coated untuk peta tentatif yang cuma mau dibuat survei, karena nanti masih dicorat-coret.  Tidak hemat biaya namanya.

Pekerjaan layout peta untuk mendapatkan tampilan yang bagus memang sering tidak mendapatkan porsi waktu yang memadai. Akibatnya, seringkali dijumpai peta terkesan asal jadi saja dan lebih jauh lagi penampilannya tampak datar-datar saja. Memang bagi sebagian orang kurang konsen pada penyajian hasil akhir sebuah pekerjaan SIG. Padahal bagian penyajian ini sangat penting. Ibarat sebuah produk, bagian penyajian ini termasuk pengemasan agar membuat produk itu lebih menarik dan menyenangkan konsumen. Bayangkan saja apabila yang hendak di layout itu hasil analisis atau pemodelan SIG yang rumit, data-data yang digunakan juga banyak dan kompleks. Kemudian penampilannya hasilnya biasa-biasa saja atau bahkan asal-asalan dibuat. Ibarat mobil Ferrari tetapi catnya cuma cat semprot kaleng kecil itu. Jelas bukan kelasnya dan ini patut disanyangkan.

Sering pula seorang yang sedang bekerja membuat layout peta terpancang pada satu perangkat lunak saja. Misalnya kebiasaan dengan ArcMap, ya sudah all out dikerjakan dengan perangkat lunak itu. Sebenarnya, perlu disadari bahwa fitur yang ada di dalam ArcMap untuk layout itu tidak memiliki jangkauan kemampuan perangkat lunak grafis. Jadi untuk dapat membuat dan menghasilkan peta yang lebih indah perlu tak hanya ArcMap. Dalam hal ini perangkat lunak spesialis grafis sangat diperlukan.

Perangkat lunak spesialis grafis ada banyak pilihan, mulai dari yang gratis sampai dengan lisensinya jutaan rupiah. Sebut saja ada GIMP, Inkscape, Corel Draw, Adobe Illustrator dst. Anda dapat menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan kedalaman fitur yang hendak digunakan. Ini bukan berarti perangkat lunak yang gratis tidak dapat membantu anda dalam membuat peta lebih indah. Banyak faktor yang akan andil didalam proses ini, termasuk kreativitas anda sendiri dalam menerapkan kaidah kartografi ditunjang dengan perangkat yang ada tersebut.

Berikut ini sekedar contoh pemanfaatan perangkat lunak grafis untuk mendukung ArcMap dalam menghasilkan sebuah peta. Jadi dalam hal ini selain ArcMap ada perangkat lunak lain yaitu Inkscape + Image Tricks Lite. Anda juga dapat menggunakan kombinasi perangkat lunak yang berbeda, misalnya setelah ArcMap, ada Corel Draw dan Microsof Photo Editor. Terserah kombinasinya, yang penting anda merasa nyaman dengan kombinasi perangkat lunak grafisnya. Misalnya lebih bisa dan terbiasa dengan Adobe Illustrator, maka ganti saja posisi Corel Draw tersebut. Yang jelas kombinasinya adalah perangkat lunak SIG, perangkat lunak grafis dan perangkat lunak photo editor. Kecuali anda punya perangkat lain yang terintegrasi sehingga dengan perangkat tersebut dapat membuka secara langsung file data SIG. Misalnya dengan Ortelius, OCAD, Canvas with GIS atau pun Avenza MapPublisher, maka akan lain ceritanya.

Hasil dari ArcMap dan Setelah dari perangkat lunak grafis

Tampilan sebelum finishing (hasil dari ArcMap) dan sesudah finishing dari perangkat lunak grafis

Dalam contoh ini, pertama-tama layout dasar peta dibuat di ArcMap. Kemudian hasil layout setengah jadi di ArcMap tersebut di export ke format PDF. File PDF ini kemudian dengan InkScape dibuka dan dilakukan proses selanjutnya. Untuk membuat kesan peta tidak datar, InkScape ada fasilitas filter dimana dapat digunakan untuk membuat beberapa effect. Untuk contoh ini saya menggunakan filter Shadows and Glows> Glow dan Image Effects>Sharpen. Setelah proses itu layout di export menjadi image. Image yang dihasilkan dari proses pengerjaan di InkScape kemudian mendapatkan sentuhan akhir dari perangkat lunak Image Tricks Lite untuk Color>Color Control dan Focus > Sharpen Luminance. Berikut hasil akhirnya.

Peta akhir dari proses dengan perangkat lunak grafis

Peta akhir dari proses dengan perangkat lunak grafis (klik untuk memperbesar)

Pada peta akhir hasil dari proses yang melibatkan perangkat lunak grafis tadi lebih “hidup”. Cobalah anda mempehatikan pada bagian antara sungai, jalan dan daratan yang saling bersinggungan dengan memperbesar gambar di atas. Perubahan warna pada sungai dan daratan setelah proses Color Control dan Sharpen menjadikan peta tersebut lebih baik penampilannya.

Dalam bahasa sederhana, akurasi dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah tingkat dimana informasi spasial pada peta tepat atau sesuai dengan kenyataannya disituasi nyata. Kemudian presisi mengacu pada tingkat pengukuran dan ketepatan deskripsi dalam basisdata SIG

Data yang sangat tepat atau sangat presisi tidak selalu berkorelasi dengan data yang sangat akurat atau sebaliknya. Akurasi dan presisi adalah dua pengukuran yang terpisah dan berbeda.  Tetapi, kedua pengukuran ini menentukan kualitas data spasial.

Untuk lebih mudahnya, kita berandai-andai begini, misalnya kita hendak membeli sandal jepit, ukuran kaki sandal jepit yang pas diketahui nomor 9. Setelah sampai ke toko yang menjual sandal jepit itu, ketemulah dengan sepasang sandal jepit nomor 9 dan kita beli. Ini berarti akurat dengan ukuran kaki. Tetapi berkaitan dengan presisi, mungkin di toko itu kita juga jumpa dengan sandal jepit nomor 9, tetapi selen alias, sandal untuk kaki kiri dan kanan, ternyata merknya beda atau bukan pasangannya, tapi pas dikaki. Ini berarti akurat tetapi tidak presisi bukan?.

Kondisi serupa bisa terjadi ketika hendak memilih seragam, atasan dan bawahan misalnya harus dengan warna yang sama, dalam hal ini katakana saja warna putih. Ukuran celana panjangmu adalah 30, kemudian atasan atau kemeja itu M. Di suatu toko, ketemulah celana panjang warna putih ukuran 30, tetapi disitu hanya ada kemeja warna putih dengan ukuran S, L dan XL. Ini berarti terkait presisi warna sudah tepat, tetapi masalah akurasinya tidak.  Sementara itu di toko lain, rekan kita ternyata tidak menemukan celana panjang dan kemeja sesuai dengan ukuran dan warna yang diharapkan. Dia tidak menemukan pakaian yang bisa dijadikannya seragam. Ini berarti dia tidak mendapatkan akurasi dan presisi dalam rangka mendapatkan seragam.

Terkait dengan kualitas data spasial, beberapa standard terkait data spasial ini telah ada SNI-nya, misalnya terkait jaring kontrol horizontal yang dapat di lihat disini. Tanpa adanya standard, masalah akurasi dan presisi ini tidak ada titik temu.