Archive for the ‘opinion’ Category

Seminggu yang lalu mendapatkan pengalaman yang menarik terkait membaca peta. Entah karena dulunya pengajaran tidak sampai ke hal-hal mendasar, sehingga saya menjumpai siswa yang ketika berhadapan dengan peta hardcopy mati gaya. Sederhana saja, ketika saya meminta plotting koordinat diatas peta, beberapa siswa kesulitan melakukannya.

Secara sederhana, kegiatan membaca peta merupakan kegiatan melihat dengan cara yang memungkinkan pembaca itu untuk dapat memahami atau mendapatkan informasi dari dalam peta tersebut. Jadi kegiatan ini berbeda dibandingkan dengan kegiatan melihat lukisan atau karya seni visual yang lain karena endingnya penafsiran dari peta harus sama. Oleh karena itu dipeta selalu dilengkapi dengan legenda yang memuat arti dari simbolisasi.

Tips paling sederhana untuk mendapatkan informasi dari peta tanpa gagal paham ialah dengan memfokuskan pada 5 elemen peta berikut ini terlebih dahulu, (1) membaca judul peta, (2) membaca legenda,  (3) membaca skala, (4) membaca orientasi, (5) melihat ke-4 pojok peta dimana koordinat batas-batas peta dicantumkan. Anda bisa saja membuat urutan sendiri dari 5 hal tadi. Untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dan rinci baru dilanjutkan ke elemen utama peta (main map), kemudian ke bagian inset, sumber data dan sebagainya. Sederhana bukan?

Tulisan ini sekedar penuangan pemikiran berkaitan dengan membuat peta. Dari pengalaman tahun lalu (2016) dan tahun sebelumnya (2015), entah kenapa hasil perkuliahan pemetaan dan SIG dimana penulis turut mengajar, selalu pada bagian akhir yang berupa peta masih belum baik hasilnya. Dasar-dasar pemetaan, kartografi, SIG dikelas jelas sudah diberikan, secara teoritis dari hasil ujian juga cukup baik.  Namun peta yang dihasilkan diakhir perkuliahan masih jauh dari harapan. Oleh karena itu penulis mencoba menguraikan beberapa hal yang kurang lebih penting dan diperlukan untuk dapat menjadi  pembuat peta/kartografer/senimanpeta yang baik.

 

Sebagian peta-peta itu

Pertama, untuk dapat menghasilkan peta yang bagus diperlukan pemahaman atas pengetahuan (konsep dasar) dan keterampilan (skill). Tentu saja pengetahuan yang dimaksud disini adalah kartografi, selain itu karena pada zaman ini tidak lepas dengan komputer dengan segala pernak-perniknya, maka diperlukan juga pengetahuan dibidang ini, ditambah dengan pengetahuan terkait seni grafis. Selain itu, karena secara operasional diperlukan keterampilan, maka untuk dapat membuat peta yang baik, seseorang dituntut untuk memiliki terampil mengoperasikan komputer, perangkat lunak yang digunakan untuk desain dan layout peta, olah dan editing grafis dan seterusnya. Penguasaan teori-teori saja, tanpa punya kemampuan nyata mengimplementasikan pada pengerjaan desain dan layout peta, itu tidaklah yang dikehendaki disini. Bayangkanlah, ada suatu layer data yang perlu dimasukkan ke dalam peta, namun masih perlu didigitasi terlebih dahulu. Namun, seseorang hanya tahu teori georeference saja, operasionalnya dikomputer tidak menguasai. Tentu ini menjadi kendala yang serius bukan?.

Kedua, bidang ini terkait dengan Geografi dengan SIG-nya. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, konsep dasar mengenai representasi fenomena geografis dan prinsip-prinsip yang ada dalam SIG juga dipahami. Dengan demikian penggambaran informasi ke dalam peta dapat sesuai dengan kaidah. Paling tidak mengetahui kapan menggunakan simbol titik, garis atau poligon ketika merepresentasikan sesuatu fenomena itu. Serta jenis-jenis data format SIG yang ada. Karena dalam menyusun sebuah peta, seringkali digunakan data dari berbagai sumber dan formatnya beragam. Ini memerlukan proses konversi dan standarisasi. Tanpa memahami Geografi dan juga SIG, anda akan kesulitan menangani hal ini. Kemudian terkait dengan visualisasi, saat ini telah banyak perangkat lunak penunjang,  oleh karena itu konsep dan operasionalnya perlu juga dipahami agar tidak salah merepresentasikan informasi ke dalam peta apabila anda dituntut menggunakannya.

Ketiga, perlu imajinasi, unsur artistik, daya kreativitas.  Untuk menghasilkan peta yang sesuai pakem kartografi yang mudah dibaca, dimengerti untuk keperluan dan tujuan yang berbeda-beda diperlukan unsur-unsur tersebut. Karena kalau sudah berkecimpung dibidang kartografi, peta-peta yang dihasilkan tidak hanya untuk kelengkapan laporan praktikum, skripsi, tesis dan jurna ilmiah saja. Bahkan ukuran cetak, media cetaknya dapat bervariasi sesuai dengan permintaan orang memesan ya. Anda tidak bisa membatasi diri hanya menerima desain dan layout peta ukuran A4 untuk dicetak dikertas plain (HVS) saja bukan?. Anda bisa ditertawai banyak orang…

Keempat, pemula dibidang ini, atau yang baru belajar, umumnya tidak tekun, tidak sabar, kurang berlatih, kurang detil dan kurang teliti. Seperti yang telah penulis uraikan pada bagian pertama, keterampilan akan tumbuh pesat dengan tekun berlatih, tekun melakukan eksplorasi, mengkombinasikan berbagai teknik olah grafis misalnya. Beberapa siswa penulis terindikasi kurang tekun, tidak sabar, kurang berlatih, kurang detil dan kurang teliti ini.  Perlu ingat juga bahwa mendesain dan melayout peta untuk dicetak pada kertas ukuran A0 tidak akan sama effortnya dengan melayout peta yang untuk dicetak pada kertas A4. Karena semakin besar ukuran media cetak peta, anda dituntut untuk mampu mendesain, membuat layout dengan kedetilan lebih dibandingkan untuk peta yang ukuran media pencetakannya lebih kecil. Ambil contoh sederhana saja, pemilihan ukuran huruf (fonts). Anda tidak bisa menggunakan ukuran huruf  yang digunakan pada judul peta ukuran A4 untuk dipakai untuk judul peta ukuran A0, ini jelas tidak proporsional. Kemahiran anda dalam mengatur proporsi, komposisi hanya akan terasa dengan banyak berlatih. Dan tidak ada loncatan kuantum atau shortcut dimana bisa membuat anda mahir hanya dalam semalam saja :). Kemudian, jangan segan-segan minta orang lain menilai hasil yang telah anda capai. Dengan begitu ada yang mengkritisi karya anda tersebut. Dari situlah anda dapat mengetahui dibagian mana kekurang peta yang telah dihasilkan. Apabila ada bagian peta yang anda kurang teliti mengerjakannya, tentu akan dengan mudah diketahui. Jadi, jangan hanya disimpan peta-peta hasil desain dan layout anda itu. Biarkan orang lain melihat, membaca dan menilainya. Jangan anti terhadap masukkan dan kritik. Anggap saja semua masukkan dan kritik pedas sekalipun adalah bagian dari proses pembelajaran anda menjadi mahir.

Kelima, terbuka terhadap ide baru. Ide-ide baru ini hanya dapat diperoleh dengan banyak membaca, melihat dan mempelajari peta karya orang lain. Bukan dalam maksud menjiplak karya-karya orang lain tersebut secara utuh. Paling tidak itu bisa menjadi sarana update pengetahuan serta wawasan terkait teknik, teknologi dan juga trend terbaru.

Keenam, pengelolaan waktu dan stress. Penulis memasukkan aspek ini karena pada dunia pekerjaan riil, sering kita dikejar oleh target-target oleh atasan ataupun klien. Jadi pengelolaan waktu dan stres perlu. Pemula perlu belajar mengelola waktu dan tekanan. Untuk mengelola waktu, misalnya dengan membuat urutan/prioritas, peta-peta mana saja yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Selain itu, anda juga bisa membuat urutan pengerjaan dari tingkat kerumitan atau waktu yang diberikan kepada anda untuk menyelesaikannya. Ingat, jangan dikiran pekerjaan membuat peta tidak bisa membuat stress hehehe.  Anda bisa stress jika pesanan peta banyak dari klien atau atasan banyak, namun anda tidak cukup cakap mengelola waktu dan mengerjakannya sehingga pada muaranya berantakan. Tentu hal semacam itu tidak kita harapkan.

Setelah cukup lama absen menulis, izinkan tulisan berikut ini sebagai tanda kehadiran tulisan saya kembali. Mudah-mudahan topiknya tidak terlalu berat buat para pembaca .

Seperti para pembaca ketahui saat ini, kartografi tak luput dari tantangan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Anda pasti sudah tahu bahwa semua produk kebanyakan telah dikemas secara digital. Ini memang sudah laju dari zaman. Bahkan satu dekade lalu, tak terbayang kalau dapat pesan ojek lewat gawai (gadget) bukan?. Demikian pula aplikasi yang menggunakan peta juga belum semasif sekarang.Pada saat itu peta masih lebih banyak disimpan dalam bentuk hardcopy dan pemanfaatannya belumlah seperti saat ini.

Kembali pada kartografi, pertanyaan yang mungkin menyeruak dipermukaan apakah kartografi masih relevan saat ini??. Menurut saya, masih dong..

Beberapa kalangan mungkin memiliki persepsi “dangkal” dan masih merujuk bahwa kartografi ya aktivitas dengan kertas kalkir, meja gambar, rapidograph, penggaris dll. Kuno ya??. Disisi lain, beberapa kalangan memiliki persepsi bahwa kartografi hanyalah sekedar cara membuat peta bisa saja menjadi salah satu topik dari bidang geomatika lain. Tidak terlalu penting lagi.

Sementara itu, mungkin ada yang “kebablasan”. Karena eranya sudah digital kemudian tidak penting lagi, jadi menganggap berpegang pada kaidah dasar kartografi adalah kuno. Misalnya membuat peta penggunaan lahan sebuah desa kecil disuatu kecamatan dengan mengambil data dari citra Landsat, atau membuat peta jenis tanah suatu desa dengan menurunkannya dari peta jenis tanah skala tinjau. Main tabrak kaidah.

Perubahan pada bidang kartografi memang sudah sewajarnya dan para ahli dibidang ini telah merumuskannya. Saya dapat mengatakan bahwa perubahan yang ada dalam kartografi seiring perkembangan teknologi informasi hanya pada aspek kemasan saja. Filosofi, karakteristik, prinsip-prinsipnya tetaplah sama. Konsistensi, kebenaran dan keterbacaan dalam menyampaikan informasi kartografis tetaplah menjadi karakteristik penting. Meskipun penggunaan produk-produk kartografis ini seiring perkembangan teknologi informasi menjadi lebih luas.

Sedikit kembali menegaskan pengertian. Menurut saya kartografi tradisional, merepresentasikan permukaan bumi pada bidang gambar dengan skala melalui proyeksi dan dibingkai dalam suatu sistem koordinat, dengan penggunaan simbol-simbol yang beragam untuk merepresentasikan informasi baik yang berdimensi titik, garis dan poligon. Sedangkan Automatic Cartography atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Otomasi Kartografi adalah penghubung antara kartografi tradisional dengan Kartografi numerik/digital. Perlunya reproduksi kembali peta-peta produk kartografi sebelumnya dalam bentuk hardcopy ke format digital dengan digitasi atau konversi raster ke vektor untuk memenuhi kebutuhan geodata pada kartografi numerik/digital memerlukan otomasi ini.

Kemudian disisi lain, Kartografi numerik/digital menggunakan karakteristik metrik dan kualitatif yang ada pada Kartografi tradisional dan merepresentasikan dalam struktur penyimpanan data, visualisasi data dalam berbagai skala. Jadi dalam pengertian ini jelas sekali bahwa pada kartografi digital konsepnya tidak berubah. Tetap saja dalam kartografi digital representasi dari informasi juga harus benar dalam aspek planimetrik, plano-altimetric maupun secara 3D-nya. Selain itu aspek dasar seperti konsistensi dalam merepresentasikan informasi, reliabilitas dalam menyampaikan informasi yang sebenarnya dan aspek keterbacaan atau kemudahan untuk diinterpretasi tetap menjadi kriteria penilaian kualitas produk kartografi digital ini.

Menurut saya, justru karena saat ini sudah canggih baik itu peralatan surveinya, komputer yang digunakan untuk pengolahan, kemudian sumber data penginderaan jauh yang lebih memadai bahkan hingga plotternya sudah hebat merepresentasikan warna-warna sehingga tidak perlu kuatir saat mendisain simbol dan color scheme untuk peta, tantangan pada sisi kedetilan dan kualitas produk kartografi semakin tinggi.Perlu diingat kembali bahwa kualitas tidak hanya pada yang terlihat sebagai tampilan visual saja.

Ada baiknya mengingat kembali bahwa setidaknya ada 3 tingkatan cara memperoleh data spasial untuk keperluan kartografi digital, yaitu:

  1. survey langsung menggunakan instrumen topografis, gps dan lain sebagainya
  1. interpretasi data penginderaan jauh dan proses fotogrametrik
  1. digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya

Oleh karena itu, dalam aktivitas kartografi digital, seseorang harus paham betul tiap-tiap tingkatan diatas dan implikasinya pada kualitas data. Termasuk pada kesesuaian kedetilan informasi dan kedalaman informasi dengan skala peta yang hendak disajikan. Masihkah ingat dengan Tobler (1987) yang menyatakan bahwa bagi penyebut skala peta dengan 1000 untuk mendapatkan ukuran (dalam satuan meter) yang dapat dideteksi, maka resolusi spasial sumber data yang digunakan adalah setengahnya. Menurut saya ini sungguh fundamental. Karena dari situ peneliti selanjutnya menjadi sadar bahwa resolusi spasial sumber data sangat penting untuk diperhatikan. Lihat saja tabel dibawah ini sebagai perkembangannya.

Screen Shot 2015-10-26 at 10.29.39 AM                       Diadaptasi dari McCoy (1995)

Ambil saja contoh, digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya untuk keperluan kartografi digital, perlu disadari bahwa dalam proses tersebut kemungkinan terjadi penurunan presisi dapat terjadi. Kemudian, seberapa besar kesalahan grafis yang diperbolehkan dan masih dapat diterima ? Misalnya digitasi ulang garis kontur, apakah kesalahan grafis 0.2 mm karena heterogenitas kenampakan pada peta yang sedang didigitasi ulang tersebut dan karena tipisnya garis itu dapat diterima atau dapat ditolerasi?

Lebih jauh lagi, kita semua menyadari bahwa didunia nyata, kondisi alam ini sangat kompleks dan banyak sekali detilnya. Peta harus dapat secara strategis dibuat dengan generalisasi untuk mengurangi detail, mengelompokkan fitur dan dapat lebih menonjolkan informasi yang menjadi fokus peta tersebut. Metode generalisasinya perlu yang sesuai, bila tidak makan kita dapat kehilangan informasi yang justru terpenting dan menjadi fokus. Semua serba digital, klik-klik diperangkat lunak makan proses generalisasi dapat dilakukan dari data digital sumbernya. Namun apakah hasilnya telah sesuai?

Screen Shot 2015-10-26 at 10.11.58 AM                                         Sumber: Kryger dan Wood (2005)

Dan yang sebenarnya, dengan memanfaatkan keunggulan teknologi, dalam kartografi digital kita dapat merepresentasikan informasi dalam peta interaktif. Sesuatu yang sangat terbatas untuk dapat dilakukan pada kartografi tradisional. Disini kita dapat menggunakan teknik animasi untuk menampilkan informasi menurut perubahan waktu (temporal) dan juga untuk menampilkan informasi yang sifatnya dinamis.

Sebagai tambahan, karena kartografi digital produknya salah satunya berupa peta digital dan mudah sekali untuk disebarluaskan melewati jaringan internet, maka aspek legal, copyright/hak ciptanya bagaimana?. Jadi perlu sekali dibuat semacam persetujuan atau kesepakatan bersama yang mengatur hal ini.

Inilah pentingnya prinsip-prinsip dasar tetap dipegang walaupun eranya sudah kartografi digital.Kemudian ditambah dengan kaidah baru yang menunjang kondisi saat ini. Misalnya, melihat kemampuan mata manusia memisahkan garis, membedakan warna, kira-kira berapa resolusi peta yang cocok untuk ditampilkan di webgis, atlas digital?. Kemudian format penyimpanannya dalam Tiff, JPEG, png atau format apa yang sesuai?. Inilah tantangan di era sekarang..

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini. Perlunya kiat-kiat kreatif untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas produk kartografi digital ini. Selain tipis sekali sekat antara bidang kartografi digital dengan bidang geomatika lain yang sama-sama menggunakan bentuk peta digital sebagai produk akhir. Kartografi digital harus dapat menempatkan dirinya sebagai representasi konsep awal kartografi namun tetap fleksibel dalam mengadopsi teknik dan teknologi yang berkembang saat ini. Dengan demikian peta produk kartografi digital tidak kehilangan ciri khas sebagai produk seni, ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Seperti definisi kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Jadi peta yang ditampilkan tak sekedar keluaran sebuah proses SIG semata, atau hasil PCD dan interpretasi citra penginderaan jauh. Namun peta yang dengan seksama dirancang, didesain sedemikian rupa untuk dapat berinteraksi dengan penyimak dan pembacanya sebagai bagian dari mata rantai komunikasi.

Pustaka:

Gomarasca, M.A.2009.Basics of Geomatics. Springer:Milan

Jan Kraak, M., Ormeling, F.2010.Cartography:Visualization of Geospatial Data (3rd edition).Pearson Education Limited:England

Krygier, J., Wood, D. 2005.Making Maps, A Visual Guide to Map Design for GIS. The Guilford Press: New York.

McCloy, Keith R., 1995. Resource Management Information Systems : Process and Practice. Taylor & Francis, Inc: London.

Tobler, Waldo. 1987. Measuring Spatial Resolution. Proceedings, Land Resources Information Systems Conference, Beijing, pp. 12-16.