Archive for the ‘opinion’ Category

Setelah cukup lama absen menulis, izinkan tulisan berikut ini sebagai tanda kehadiran tulisan saya kembali. Mudah-mudahan topiknya tidak terlalu berat buat para pembaca .

Seperti para pembaca ketahui saat ini, kartografi tak luput dari tantangan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Anda pasti sudah tahu bahwa semua produk kebanyakan telah dikemas secara digital. Ini memang sudah laju dari zaman. Bahkan satu dekade lalu, tak terbayang kalau dapat pesan ojek lewat gawai (gadget) bukan?. Demikian pula aplikasi yang menggunakan peta juga belum semasif sekarang.Pada saat itu peta masih lebih banyak disimpan dalam bentuk hardcopy dan pemanfaatannya belumlah seperti saat ini.

Kembali pada kartografi, pertanyaan yang mungkin menyeruak dipermukaan apakah kartografi masih relevan saat ini??. Menurut saya, masih dong..

Beberapa kalangan mungkin memiliki persepsi “dangkal” dan masih merujuk bahwa kartografi ya aktivitas dengan kertas kalkir, meja gambar, rapidograph, penggaris dll. Kuno ya??. Disisi lain, beberapa kalangan memiliki persepsi bahwa kartografi hanyalah sekedar cara membuat peta bisa saja menjadi salah satu topik dari bidang geomatika lain. Tidak terlalu penting lagi.

Sementara itu, mungkin ada yang “kebablasan”. Karena eranya sudah digital kemudian tidak penting lagi, jadi menganggap berpegang pada kaidah dasar kartografi adalah kuno. Misalnya membuat peta penggunaan lahan sebuah desa kecil disuatu kecamatan dengan mengambil data dari citra Landsat, atau membuat peta jenis tanah suatu desa dengan menurunkannya dari peta jenis tanah skala tinjau. Main tabrak kaidah.

Perubahan pada bidang kartografi memang sudah sewajarnya dan para ahli dibidang ini telah merumuskannya. Saya dapat mengatakan bahwa perubahan yang ada dalam kartografi seiring perkembangan teknologi informasi hanya pada aspek kemasan saja. Filosofi, karakteristik, prinsip-prinsipnya tetaplah sama. Konsistensi, kebenaran dan keterbacaan dalam menyampaikan informasi kartografis tetaplah menjadi karakteristik penting. Meskipun penggunaan produk-produk kartografis ini seiring perkembangan teknologi informasi menjadi lebih luas.

Sedikit kembali menegaskan pengertian. Menurut saya kartografi tradisional, merepresentasikan permukaan bumi pada bidang gambar dengan skala melalui proyeksi dan dibingkai dalam suatu sistem koordinat, dengan penggunaan simbol-simbol yang beragam untuk merepresentasikan informasi baik yang berdimensi titik, garis dan poligon. Sedangkan Automatic Cartography atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Otomasi Kartografi adalah penghubung antara kartografi tradisional dengan Kartografi numerik/digital. Perlunya reproduksi kembali peta-peta produk kartografi sebelumnya dalam bentuk hardcopy ke format digital dengan digitasi atau konversi raster ke vektor untuk memenuhi kebutuhan geodata pada kartografi numerik/digital memerlukan otomasi ini.

Kemudian disisi lain, Kartografi numerik/digital menggunakan karakteristik metrik dan kualitatif yang ada pada Kartografi tradisional dan merepresentasikan dalam struktur penyimpanan data, visualisasi data dalam berbagai skala. Jadi dalam pengertian ini jelas sekali bahwa pada kartografi digital konsepnya tidak berubah. Tetap saja dalam kartografi digital representasi dari informasi juga harus benar dalam aspek planimetrik, plano-altimetric maupun secara 3D-nya. Selain itu aspek dasar seperti konsistensi dalam merepresentasikan informasi, reliabilitas dalam menyampaikan informasi yang sebenarnya dan aspek keterbacaan atau kemudahan untuk diinterpretasi tetap menjadi kriteria penilaian kualitas produk kartografi digital ini.

Menurut saya, justru karena saat ini sudah canggih baik itu peralatan surveinya, komputer yang digunakan untuk pengolahan, kemudian sumber data penginderaan jauh yang lebih memadai bahkan hingga plotternya sudah hebat merepresentasikan warna-warna sehingga tidak perlu kuatir saat mendisain simbol dan color scheme untuk peta, tantangan pada sisi kedetilan dan kualitas produk kartografi semakin tinggi.Perlu diingat kembali bahwa kualitas tidak hanya pada yang terlihat sebagai tampilan visual saja.

Ada baiknya mengingat kembali bahwa setidaknya ada 3 tingkatan cara memperoleh data spasial untuk keperluan kartografi digital, yaitu:

  1. survey langsung menggunakan instrumen topografis, gps dan lain sebagainya
  1. interpretasi data penginderaan jauh dan proses fotogrametrik
  1. digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya

Oleh karena itu, dalam aktivitas kartografi digital, seseorang harus paham betul tiap-tiap tingkatan diatas dan implikasinya pada kualitas data. Termasuk pada kesesuaian kedetilan informasi dan kedalaman informasi dengan skala peta yang hendak disajikan. Masihkah ingat dengan Tobler (1987) yang menyatakan bahwa bagi penyebut skala peta dengan 1000 untuk mendapatkan ukuran (dalam satuan meter) yang dapat dideteksi, maka resolusi spasial sumber data yang digunakan adalah setengahnya. Menurut saya ini sungguh fundamental. Karena dari situ peneliti selanjutnya menjadi sadar bahwa resolusi spasial sumber data sangat penting untuk diperhatikan. Lihat saja tabel dibawah ini sebagai perkembangannya.

Screen Shot 2015-10-26 at 10.29.39 AM                       Diadaptasi dari McCoy (1995)

Ambil saja contoh, digitasi produk kartografi yang dihasilkan sebelumnya untuk keperluan kartografi digital, perlu disadari bahwa dalam proses tersebut kemungkinan terjadi penurunan presisi dapat terjadi. Kemudian, seberapa besar kesalahan grafis yang diperbolehkan dan masih dapat diterima ? Misalnya digitasi ulang garis kontur, apakah kesalahan grafis 0.2 mm karena heterogenitas kenampakan pada peta yang sedang didigitasi ulang tersebut dan karena tipisnya garis itu dapat diterima atau dapat ditolerasi?

Lebih jauh lagi, kita semua menyadari bahwa didunia nyata, kondisi alam ini sangat kompleks dan banyak sekali detilnya. Peta harus dapat secara strategis dibuat dengan generalisasi untuk mengurangi detail, mengelompokkan fitur dan dapat lebih menonjolkan informasi yang menjadi fokus peta tersebut. Metode generalisasinya perlu yang sesuai, bila tidak makan kita dapat kehilangan informasi yang justru terpenting dan menjadi fokus. Semua serba digital, klik-klik diperangkat lunak makan proses generalisasi dapat dilakukan dari data digital sumbernya. Namun apakah hasilnya telah sesuai?

Screen Shot 2015-10-26 at 10.11.58 AM                                         Sumber: Kryger dan Wood (2005)

Dan yang sebenarnya, dengan memanfaatkan keunggulan teknologi, dalam kartografi digital kita dapat merepresentasikan informasi dalam peta interaktif. Sesuatu yang sangat terbatas untuk dapat dilakukan pada kartografi tradisional. Disini kita dapat menggunakan teknik animasi untuk menampilkan informasi menurut perubahan waktu (temporal) dan juga untuk menampilkan informasi yang sifatnya dinamis.

Sebagai tambahan, karena kartografi digital produknya salah satunya berupa peta digital dan mudah sekali untuk disebarluaskan melewati jaringan internet, maka aspek legal, copyright/hak ciptanya bagaimana?. Jadi perlu sekali dibuat semacam persetujuan atau kesepakatan bersama yang mengatur hal ini.

Inilah pentingnya prinsip-prinsip dasar tetap dipegang walaupun eranya sudah kartografi digital.Kemudian ditambah dengan kaidah baru yang menunjang kondisi saat ini. Misalnya, melihat kemampuan mata manusia memisahkan garis, membedakan warna, kira-kira berapa resolusi peta yang cocok untuk ditampilkan di webgis, atlas digital?. Kemudian format penyimpanannya dalam Tiff, JPEG, png atau format apa yang sesuai?. Inilah tantangan di era sekarang..

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini. Perlunya kiat-kiat kreatif untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas produk kartografi digital ini. Selain tipis sekali sekat antara bidang kartografi digital dengan bidang geomatika lain yang sama-sama menggunakan bentuk peta digital sebagai produk akhir. Kartografi digital harus dapat menempatkan dirinya sebagai representasi konsep awal kartografi namun tetap fleksibel dalam mengadopsi teknik dan teknologi yang berkembang saat ini. Dengan demikian peta produk kartografi digital tidak kehilangan ciri khas sebagai produk seni, ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Seperti definisi kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni (ICA, 1973). Jadi peta yang ditampilkan tak sekedar keluaran sebuah proses SIG semata, atau hasil PCD dan interpretasi citra penginderaan jauh. Namun peta yang dengan seksama dirancang, didesain sedemikian rupa untuk dapat berinteraksi dengan penyimak dan pembacanya sebagai bagian dari mata rantai komunikasi.

Pustaka:

Gomarasca, M.A.2009.Basics of Geomatics. Springer:Milan

Jan Kraak, M., Ormeling, F.2010.Cartography:Visualization of Geospatial Data (3rd edition).Pearson Education Limited:England

Krygier, J., Wood, D. 2005.Making Maps, A Visual Guide to Map Design for GIS. The Guilford Press: New York.

McCloy, Keith R., 1995. Resource Management Information Systems : Process and Practice. Taylor & Francis, Inc: London.

Tobler, Waldo. 1987. Measuring Spatial Resolution. Proceedings, Land Resources Information Systems Conference, Beijing, pp. 12-16.

It is been a while I did not explore a new software. So, I spent approximately 2 hours for something new during free time. I tried drawing software for map design called Ortelius. I was interested to try the software because the name taken from one of history’s most prominent cartographers, Abraham Ortelius. The software designed for Mac Os X Snow Leopard or later.

First of all, I downloaded the trial version from here. Then, I directly use through my MacBook Pro. When I opened it, I have got a good impression to the software. Nice look..!. Moreover, the software is also provides map templates. So, If you want to create a map composition (layout) by country or world regions, the software already provide it. Furthermore, there are also exercises & demos. If you are familiar with graphic software such as adobe illustrator, adobe photoshop, corel draw etc, Ortelius is easy to understand.That was my second impression. The vendor is also provide online tutorial for user. Click click click and after a while, here my result:

DIY

click the map for enlarge

On the whole, the software is good and I think it can be an option for map design. That’s all my 2 hours. However, I am not yet explore the symbol although the software also provide it. I saw nice emoticons inside of this software..!

hml1

Source: after Hohl (1998)

Tiba-tiba teringat tentang keterkaitan antara kualitas, kecepatan dan harga dalam perolehan data spasial sewaktu kuliah S1 dahulu. Jadi didalam kegiatan perolehan data spasial, ada trade off antara kualitas, kecepatan dan harga. Penjelasannya kurang lebih begini: kita bisa memperoleh data spasial dengan kualitas tinggi, prosesnya cepat tetapi akan memiliki konsekuensi pada biaya yang tinggi. Misalnya jika kita membeli citra satelit beresolusi tinggi. Ambil contoh saja citra Quick Bird, Ikonos, GeoEye.

Penjelasan lain misalnya begini: anda bisa melakukan digitasi kontur dari peta topografi yang meliput Propinsi Jawa Tengah, misal skala 1:25.000 dengan presisi tinggi, namun kecepatan digitasi anda lambat. Oleh sebab itu apabila seseorang hendak meminta hasil digitasi anda tersebut, mengingat anda bersusah payah melakukannya, banyak lembar peta yang harus anda digitasi, kemudian anda meminta kompensasi sejumlah nominal tertentu, ya to?. Capek soalnya..

Jadi sebuah kewajaran apabila data spasial berkualitas tinggi, diperoleh dengan waktu yang cepat, harganya mahal. Bisa pula dipahami pula bahwa kalau data itu kualitasnya rendah, diperoleh dengan waktu yang singkat, kemudian harganya murah atau malah dikasih label gratis. Bisa pula dipahami bahwa untuk mengumpulkan data berkualitas tinggi, butuh waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit.

Menurut saya pemahaman ini penting dalam dunia nyata  pekerjaan dan penelitian. Karena besar dan kecilnya dukungan keuangan, kemudian alokasi waktu yang ada untuk pengerjaan sering menjadi kendala didalam perolehan data yang berkualitas. Terkait hal ini kita memang dituntut harus cermat menyesuaikan antara ketiganya. Ini semua dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan  hasil pekerjaan dan penelitian yang hendak dicapai.