Archive for the ‘opinion’ Category

Cerita ini berdasarkan pengalaman memberikan materi pengantar dan praktek Sistem Informasi Geografis (SIG) di 3 perguruan tinggi negeri yang berbeda. Kegiatannya dalam format lokakarya dan diikuti mayoritas oleh Ibu dan Bapak staff pengajar dan mahasiswa S2 dan S3 yang telah bekerja di suatu institusi. Jadi menilik dari itu, sudah bisa diketahui dari sisi usia peserta lokakarya tidak lagi muda.

Ada sebuah pepatah yang terkenal terkait usia, “Tua-Tua Keladi – Makin Tua Makin Jadi”. Mungkin inilah yang sesuai untuk peserta kegiatan ini. Banyaknya pengalaman dan wawasan yang sebelumnya telah mereka dapatkan, serta kesadaran betapa SIG sangat mereka butuhkan untuk menunjang dan memajukan kegiatan yang ada, maka mereka sungguh bersemangat. Lebih semangat daripada anak didik mereka sendiri mungkin. Pernah saya harus pulang dari lokasi kegiatan jam 19.00 karena peserta sangat antusias belajar digitasi on-screen hingga dapat membuat peta yang bagus.

Bagi saya yang berkecimpung di bidang praktis, menanggapi hal ini dengan senang hati. Tidak ada kata terlambat belajar SIG. Semakin banyak orang yang sadar, mengerti wawasan ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari mereka, adalah sesuatu yang positif. Dan saya sangat berharap, ini semua dapat menumbuhkan kesadaran keruangan, kesadaran akan lingkungan yang ada disekitarnya. Dampak baiknya salah satunya adalah kesadaran akan pentingnya tata ruang, pentingnya pengelolaan sumberdaya alam, pentingnya mengaplikasikan wawasan SIG ini untuk membuat aktivitas sehari-hari lebih lancar dan sebagainya.  Tidak perlu yang muluk-muluk ingin menggunakan SIG untuk aplikasi yang rumit, yang sederhana saja misalnya menggunakan wawasan ini untuk memilih rute perjalanan ke Kampus dan menghindari kemacetan lalu – lintas. Ini misalnya ditengah perjalanan  menggunakan perangkat smartphone membuka Google Map atau sejenisnya dan mengaktifkan GPS yang ada pada ponsel untuk mengetahui keberadaan diri. Kemudian berdasarkan informasi yang diperoleh dari Google Map itu, memutuskan mengambil rute perjalanan yang ternyaman menuju tujuan. Sesederhana itu saja.., bukankah ini sangat membantu membuat lebih efisien ?. Hal seperti itu mungkin tidak disadari, namun ternyata telah menggunakan pendekatan keruangan.

Bagi saya pribadi, wawasan ini sungguh besar manfaatnya. Mengapa SIG?. Secara praktis SIG memungkinkan kita semua untuk melihat, memahami pertanyaan, menafsirkan, serta mem-visualisasikan data keruangan dalam berbagai cara yang mengungkapkan hubungan, pola, dan kecenderungan dalam bentuk peta, globe, laporan, dan grafik. Ambil contoh, dengan sarana peta, kita dapat melihat kepulauan yang ada di NKRI dalam sekali pandang…., dengan demikian pandangan kita dapat lebih luas lagi. Istilah kerennya GIS – expanding your view. Jadi, setelah membaca ini,  untuk anda yang belum, apakah anda tertarik untuk belajar?. Kemudian kapan anda ingin belajar ?

Menurut John Calkins, ESRI, untuk peta agar menjadi benar-benar kuat membutuhkan dua hal. Pertama, mereka perlu untuk menceritakan sebuah cerita. Kedua, mereka harus dimasukkan ke dalam tangan orang.

Maksud yang pertama itu bagaimana?.  Ini pemahaman saya, boleh dikata hampir setiap orang dapat mempublikasikan peta atau data spasial, apalagi misalnya untuk lulusan Geografi. Bukan hal yang sukar bagi mereka, soalnya ada mata kuliah dan praktikum membuat peta. Tapi perlu diingat, saat ini, hari ini kita perlu jeli melihat pergeseran keinginan dan kebutuhan untuk berkomunikasi dalam bercerita secara lebih efektif, bukan hanya data yang ditampilkan begitu saja. Kalau hanya seperti itu, membosankan sekali nanti. Oleh karena itu,  perlu menyusun peta ini menjadi produk informasi yang lebih berguna. Karena peta akan memiliki kekuatan ketika mereka itu bisa bercerita. John Calkins  bilang  perlu ditambah narasi sehingga membuat peta itu bisa bercerita. Oke, berarti itu nanti akan elemen narasi yang dimasukkan ke dalam layout peta. Aha.., itu layaknya sebuah infografis..!.

Kemudian maksud yang kedua, harus dimasukkan ke dalam tangan orang, apa itu?. Sudah banyak orang yang sering membuat peta, tetapi apakah petanya itu mencapai orang yang tepat?. Peta itu nanti hanya memiliki kekuatan ketika sampai pada  tangan orang yang tepat. Kalau sampai ke penjual kacang, jangan-jangan peta yang dicetak diselembar kertas itu hanya menjadi bungkus. Tidak berarti apa-apa. Wah repot.

Saat ini selain cara menyajikan peta dengan dicetak dengan printer, plotter dll, sudah ada pilihan menempatkan peta dalam aplikasi web atau syukur-syukur  bisa menempatkannya pada perangkat mobile. Wah ini..

Bila peta anda itu bisa sampai orang-orang yang memerlukan, dan mereka bisa menggunakannya untuk membuat sesuatu, misalnya  saja peta itu membantu memilih rute dari rumah ke kantor, ke pasar, ke kampus atau ke rumah pacar dst secara lebih efisien, menjadi lebih produktif, karena mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik. Bukankah mereka telah menggunakan peta itu untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik?. Nah, yang begini ini.

Saya pribadi, kadang meluangkan waktu sekedar melihat-lihat peta yang pernah saya buat, entah itu untuk publikasi orang lain, pesanan orang, peta untuk laporan ilmiah, poster dst. Saya melihat dan mempelajarinya kembali, mengapa peta saya desain seperti itu?, kenapa pemilihan warna dan fonts seperti itu? dst. No body perfect.., untuk menjadi semakin baik memang harus terus belajar dan menerapkan pelajaran yang diperoleh itu. Untuk mencapai level mampu menghasilkan peta yang powerful memang tidak mudah.. Orang lain nanti yang akan menilai, first impression yang didapatnya ketika melihat, membaca peta anda dapat jadi tolok ukur.

Saya sedang memulai perkuliahan lagi, dan sedang terkena doktrin geomorfologi, “the present is the key to the past”.   Apa maksudnya?, dalam studi geomorfologi proses internal dan ekternal pada permukaan bumi, yang bekerja saat ini itu sama dengan yang terjadi dimasa lampau, hanya saja intensitas bisa bervariasi. Itu tadi merupakan bagian yang fundamental untuk setiap  pemahaman logis perkembangan topografi. Dengan melihat bentukan yang telah ada sekarang, kejadian masa lalunya dapat ditelusuri.

Menurut saya, kalimat “the present is the key to the past”, itu begitu punya kekuatan sugesti yang kuat. Mengapa?, sebab itu menggugah kesadaran akan perhatian kita pada lingkungan sekitar. Seolah-olah kita diajak untuk secara sadar, sengaja meluangkan waktu untuk melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekeliling kita. Sederhana saja, misalnya yang tinggal di wilayah Kabupaten Sleman, kalau cuaca cerah, kemudian menghadap ke utara, Gunung Api Merapi akan terlihat gagah disana. Sudah berapa lama Gunung Api Merapi berdiri disana?, sadarkah kita akan kontribusi yang diberikannya? Juga kemungkinan-kemungkinan bahaya alam yang dapat ditimbulkannya?. Kemudian yang tinggal di Pleret, Imogiri, Jetis, Pundong Bantul itu, pegunungan Seribu terpampang diselatan, yang tinggal di Wates dan sekitar, ada perbukitan Menoreh. Pernah tidak beberapa menit dipagi merenungkan betapa disekitar kita ini bentang alam itu terjadi karena proses dimasa lalu?. Ada rangkaian proses alam yang telah berjalan lama dan itu belum berhenti.

Mungkin dari sekelumit itu, kita bisa memulai memperhatikan lingkungan sekitar, tanggap akan permasalahan dan juga mencermati tanda-tanda alam. Mungkin dari situ ada informasi yang bisa didapatkan terkait dengan bagaimana mengelola lingkungan. Mungkin dari situ juga bisa beroleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Buat saya pribadi, alam ini masih begitu misterius dan masih banyak yang perlu dipelajari.