Archive for the ‘story’ Category

Pada awalnya saya tidak menyangka dapat dengan mudahnya menampilkan informasi yang ada dalam GoogleMaps, BingMaps, OpenStreetMap Layers dan lainya dalam lingkungan Quantum GIS. Kemudian saya menemukan plugin OpenLayers yang dikembangkan Soucepole. Selepas menginstall dan mengaktifkan plugin tersebut maka akan ada menu baru di Quantum GIS bernama Web. Didalamnya terdapat beberapa sub-menu yang merujuk pada GoogleMaps, BingMaps, OpenStreetMap seperti berikut ini:

Menu plugin Openlayers ketika ditampilkan

Ketika anda memasukkan shapefile yang sudah dalam sistem koordinat UTM serta meliput suatu area, kemudian misalnya memilih sub-menu Google Maps > Google Satellite, bila anda terkoneksi dengan internet maka selang beberapa saat akan muncul tampilan citra satelit area tersebut. Tentu saja sesuai dengan ketersediaan citra yang diupload oleh Google untuk aplikasi GoogleMaps ataupun GoogleEarth-nya itu. Berikut ini contohnya:

Contoh tampilan citra yang muncul setelah memilih Google Satellite

Informasi koordinatnya langsung ada. Sehingga apabila anda hendak melakukan digitasi suatu obyek dari tampilan citra yang muncul itu dapat mudah saja. Anda juga dapat melakukan perbesaran (Zoom In), kalau ketersediaan citra satelit yang telah disiapkan oleh Google beresolusi tinggi, maka anda pun akan dapat melihatnya, misalnya seperti tampilan berikut ini:

Contoh tampilan citra setelah perbesaran (Zoom In)

Anda masih dapat memperbesar (Zoom In) lagi sampai misalnya skala 1:1000 karena kebetulan citra yang disiapkan oleh Google untuk daerah itu resolusinya tinggi. Berikut ini contoh hasil yang diperoleh:

Tampilan citra yang tersedia dalam skala 1:1000

Secara keseluruhan saya berpendapat bahwa plugin OpenLayers yang ada untuk Quantum GIS ini sangat membantu dan performanya bagus. Anda dapat dengan cepat melihat kondisi suatu area dari citra yang tersedia dengan bantuan shapefile dan plugin tersebut. Hanya agar plugin OpenLayers dapat berfungsi optimal perlu koneksi internet yang kencang agar ketika pindah atau geser lokasi, tampilan citranya juga cepat mengikuti. Selamat mencoba!.

Pada akhir semester gasal, saya mendapatkan wawasan yang cukup menarik dan memberikan pembelajaran, apalagi ini erat kaitannya dengan desain dan layout peta. Cerita dari pengalaman menjadi semacam dosen tamu inilah yang hendak saya paparkan disini. Berawal dari tugas perkuliahan, dimana dari lebih dari 50 peta yang saya periksa, ternyata ada kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya.

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Contoh Peta Dengan Desain dan Layout yang mirip

Awalnya, saya berharap mendapatkan lebih dari 50 peta yang variatif pada desain dan layoutnya meskipun terbatas dalam tema-tema yang telah disepakati. Tema yang disepakati yaitu terkait kependudukan dan kesesuaian permukiman terhadap kemiringan lereng dan terbagi untuk beberapa wilayah administrasi yang berbeda-beda. Jadi kemungkinan untuk mendapatkan peta dengan tema yang sama untuk wilayah administrasi yang sama akan cukup jarang. Terlebih dibebaskan untuk membuat desain dan layout peta tersebut sebaik-baiknya agar mudah dibaca dan dipahami. Tetapi kenyataan tidak sesuai harapan. Dari tema yang disepakati itu saya mendapatkan peta dengan wilayah administrasi yang kebanyakan sama. Bahkan dengan desain dan layout petanya pun mirip sekali.

Bagi saya kejadian itu menambah keyakinan bahwa desain dan layout peta itu punya identitas. Mengingat secara alami orang punya kecederungan yang tidak 100% sama satu dengan yang lainnya. Setiap orang akan punya kecenderungan berbeda terkait pemilihan warna, bentuk-bentuk geometri dan mengkombinasikan keduanya. Ingat psikotest?, itu ada test pengenalan bentuk-bentuk geometri juga bukan??. Jadi, sederhananya kalau anda melihat dua peta atau lebih dengan tema yang sama tetapi desain dan layout mirip sekali dengan identitas senimanpeta berbeda, ada kemungkinan salah satu atau salah dua dan seterusnya mengikuti desain dan layout satunya atau memang ada kesepakatan untuk bersama-sama menggunakan desain dan layout tertentu.

Kemudian, dari sekitar 50 peta lebih yang telah saya observasi, rata-rata mempunyai kecenderungan/pola pada desain dan layout berikut kesalahan-kesalahan detil yang ada didalamnya juga relatif sama. Kesalahan umumnya terletak pada penulisan judul peta, secara spesifik yaitu ukuran font yang tidak proporsional, kemudian skala batang yang angka-angkanya tidak diatur agar mudah dibaca, selanjutnya penggunaan frame/bingkai yang garisnya ketebalannya juga tidak proporsional dan masih banyak lagi. Menurut saya, kesalahan-kesalahan itu terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa peta juga merupakan sarana komunikasi. Dari sisi tersebut, desain dan layout peta yang saya periksa itu masih belum mampu menjadi sarana komunikasi itu. Bisa saya katakan masih berpusat pada si pembuatnya (senimanpetanya), belum sampai pada bisa berbagi informasi kepada orang lain. Untuk mencapai tingkatan peta yang didesain dapat “berbicara” kepada orang lain memang perlu banyak latihan dalam mendisain dan melayout tadi sehingga peta mampu memuat pesan yang mudah dimengerti sehingga pada akhirnya seolah-olah dapat “berbicara” kepada pembaca atau pemirsanya. Saya juga masih terus berlatih kok.

Mungkin saya terlalu banyak berharap, namun dari pengalaman satu semester tersebut, menyadarkan saya bahwa proses transfer of knowledge itu cukup kompleks. Tidak semudah membalikkan telapak tangan hehehe. Terlebih, mungkin juga dipengaruhi faktor gaya anak sekarang yang ingin serba cepat, instant, copy paste dan modifikasi dikit membuat kreativitas kurang mekar. Atau memang benar kalimat laboran lab yang saya sering mampir, “hati dan pikiran anak jaman sekarang sudah diambil yang lain”, maksudnya fokus dan ketekunannya udah pindah ke aktivitas gadget, untuk selfie dll.

 

 

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya yang berjudul hillshading.  Yang perlu saya garis bawahi disini adalah untuk menunjang aktivitas analisis menggunakan DEM seperti pembuatan hillshading, slope dst serta visualisasi 3 D  diperlukan data awal dari SRTM atau data kontur atau titik ketinggian sebagai pondasi. Apabila salah satu dari 3 jenis data itu tadi telah anda miliki, maka aktivitas analisis menggunakan DEM  dapat dengan lebih mudah dilakukan.

Selanjutnya secara khusus tulisan ini berkaitan dengan visualisasi 3D memanfaatkan hasil olahan dari data tersebut diatas dikombinasikan dengan citra satelit Landsat. Kombinasi visualisasi 3D dengan data DEM dan citra satelit ini diharapkan memberikan representasi suatu wilayah secara lebih mendekati kondisi nyata. Tentu saja ini tidak terlepas dari faktor tahun perekaman citra satelit yang dipergunakan.

Mengapa melakukan kombinasi antara data DEM dengan citra satelit? Jawabannya tentu sederhana. Kita ingin mendapatkan tampilan visualisasi 3D yang lebih baik. Jadi,  apabila citra satelit Landsat dalam komposit warna tertentu dikombinasikan dengan data DEM diharapkan menjadi lebih menarik dibandingkan sekedar visualisasi 3D data DEM semata. Perhatikan gambar berikut:

merapi_457

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi barat

Data dasar yang dipergunakan untuk membuat visualisasi 3D diatas sama dengan artikel sebelumnya. Hanya saja, visualisasi itu dikombinasikan dengan komposit 457 dari citra Landsat 7.  Dengan visualisasi yang demikian, informasi dari komposit citra Landsat 7 tersebut dapat memberikan tambahan informasi seperti penutup lahan. Misalnya, jika  diperhatikan bagian lereng sisi barat ke arah puncak Gunung Merapi, pada bagian yang berwarna kebiruan itu merupakan bekas dari aliran lava ketika Gunung Merapi erupsi. Kemudian kenampakan seperti alur sungai/pola aliran dapat terlihat lebih jelas dibandingkan kalau hanya visualisasi 3D tanpa kombinasi komposit citra. Perhatikan gambar berikut:

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi selatan

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi selatan

Lebih jauh lagi, dari visualisasi di atas tampak sekali kalau ada sungai- sungai yang mengalir ke selatan dan arah-arah lainnya. Kemudian representasi relief dan penutup lahan tubuh gunung itu juga tampak lebih jelas. Tentu ini akan sangat berguna untuk keperluan analisis dan representasi kondisi suatu wilayah. Sebagai akhir, saya dapat mengatakan kombinasi citra Landsat dengan data DEM dapat memberikan visualisasi yang lebih informatif dan menarik.