Archive for the ‘story’ Category

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya yang berjudul hillshading.  Yang perlu saya garis bawahi disini adalah untuk menunjang aktivitas analisis menggunakan DEM seperti pembuatan hillshading, slope dst serta visualisasi 3 D  diperlukan data awal dari SRTM atau data kontur atau titik ketinggian sebagai pondasi. Apabila salah satu dari 3 jenis data itu tadi telah anda miliki, maka aktivitas analisis menggunakan DEM  dapat dengan lebih mudah dilakukan.

Selanjutnya secara khusus tulisan ini berkaitan dengan visualisasi 3D memanfaatkan hasil olahan dari data tersebut diatas dikombinasikan dengan citra satelit Landsat. Kombinasi visualisasi 3D dengan data DEM dan citra satelit ini diharapkan memberikan representasi suatu wilayah secara lebih mendekati kondisi nyata. Tentu saja ini tidak terlepas dari faktor tahun perekaman citra satelit yang dipergunakan.

Mengapa melakukan kombinasi antara data DEM dengan citra satelit? Jawabannya tentu sederhana. Kita ingin mendapatkan tampilan visualisasi 3D yang lebih baik. Jadi,  apabila citra satelit Landsat dalam komposit warna tertentu dikombinasikan dengan data DEM diharapkan menjadi lebih menarik dibandingkan sekedar visualisasi 3D data DEM semata. Perhatikan gambar berikut:

merapi_457

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi barat

Data dasar yang dipergunakan untuk membuat visualisasi 3D diatas sama dengan artikel sebelumnya. Hanya saja, visualisasi itu dikombinasikan dengan komposit 457 dari citra Landsat 7.  Dengan visualisasi yang demikian, informasi dari komposit citra Landsat 7 tersebut dapat memberikan tambahan informasi seperti penutup lahan. Misalnya, jika  diperhatikan bagian lereng sisi barat ke arah puncak Gunung Merapi, pada bagian yang berwarna kebiruan itu merupakan bekas dari aliran lava ketika Gunung Merapi erupsi. Kemudian kenampakan seperti alur sungai/pola aliran dapat terlihat lebih jelas dibandingkan kalau hanya visualisasi 3D tanpa kombinasi komposit citra. Perhatikan gambar berikut:

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi selatan

Visualisasi 3D Gunung Merapi dan Merbabu dari sisi selatan

Lebih jauh lagi, dari visualisasi di atas tampak sekali kalau ada sungai- sungai yang mengalir ke selatan dan arah-arah lainnya. Kemudian representasi relief dan penutup lahan tubuh gunung itu juga tampak lebih jelas. Tentu ini akan sangat berguna untuk keperluan analisis dan representasi kondisi suatu wilayah. Sebagai akhir, saya dapat mengatakan kombinasi citra Landsat dengan data DEM dapat memberikan visualisasi yang lebih informatif dan menarik.

Sebenarnya tulisan ini adalah bagian dari materi yang saya sampaikan dikelas SIG. Tetapi ada baiknya juga untuk dipaparkan disini. Topiknya adalah analisis menggunakan DEM (Digital Elevation Model), lebih spesifiknya ke hillshading.

Hillshading membuat penampilan tiga dimensi dengan efek pencahayaan sehingga visualisasi relief dapat lebih jelas sehingga mempermudah analisis. Selain itu, menurut saya hillshading secara kartografis menambah kuat kesan relief dan membuat visualisasi tiga dimensi itu lebih bercitarasa seni.

merapi_hs

Hillshading Seputaran Gunung Merapi dan Merbabu dari data SRTM90

Lebih jauh lagi, efek pencahayaan ini diatur melalui nilai azimuth dan altitude. Azimuth merujuk pada arah datang sinar/sumber cahaya dimana 0 berarti arah datang sinar/sumber cahaya dari utara, 90 berarti dari arah timur, kemudian 180 berarti dari arah selatan, demikian seterusnya. Sementara itu, altitude merujuk pada sudut datang sinar menuju atau mengarah obyek. Kalau sinar datang tepat diatas obyek atau tegak lurus obyek berarti altitude-nya adalah 90 derajad, kemudian 45 derajad berarti sinar datang miring dan seterusnya. Sederhana bukan?.

Efek pencahayaan ini menurut saya dashyat. Bagi yang sedang mengkaji geomorfologi, akan merasakan sensasi visualisasi fitur menjadi lebih tajam. Misalnya hendak melakukan interpretasi pola aliran (drainage pattern), relief, bahkan bentuklahan akan menjadi berkali-kali lebih mudah dibandingkan hanya melihat garis kontur yang terpampang dilayar monitor komputer.

Bagaimana membuat hillshading ini?. Sebenarnya jika sudah punya data SRTM ini mudah sekali dilakukan. Misalnya kalau anda menggunakan ArcGIS, didalam ToolBox – 3D analyst tools, anda dapat menemukan tool raster surface kemudian menujulah ke hillshade. Tetapi, jika anda tidak punya apa-apa, langkah kerjanya jadi lebih panjang. Anda perlu mencari peta topografi, kemudian mendigitasi konturnya atau titik-titik ketinggiannya. Nanti, dari data itu baru dapat dibangun DEM (Digital Elevation Model) dari sebuah TIN. Setelah DEM anda miliki dapat dikonversi ke raster surface dan langkah yang saya sebutkan diatas dapat digunakan.

Kalau bosan dengan penampilan menggunakan ArcMap, anda dapat memvisualisasikan hillshading itu dengan ArcScene. Dengan kemampuan ArcScene, hillshading yang telah anda buat dapat tampil lebih interaktif lagi.

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

Hillshading yang di visualisasikan dengan ArcScene

 

Kunci untuk mendapatkan visualisasi yang bagus adalah pengaturan altitude, azimuth dan juga VE (Vertical Exaggeration). Namun, dibalik itu semua yang utama terlebih dahulu adalah resolusi DEM yang anda gunakan. Resolusi DEM tadi menjadi kunci pokok untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu, sebaiknya jangan menampilkan area diluar yang menjadi fokus. Ini akan membuat proses menjadi lebih ringan. Maklum, untuk visualisasi dalam tiga dimensi (3D), diperlukan resource komputer yang lebih dibandingkan dengan hanya sekedar dua dimensi (2D). Selamat mencoba dan bereksplorasi.

Tulisan berikut ini berawal dari mengamati kecenderungan pertanyaan disebuah group diskusi GIS, ternyata selalu ada yang terkait ketersediaan data spasial. Utamanya adalah adalah permintaan citra satelit beresolusi tinggi, permintaan untuk dibagi shapefile suatu wilayah, baik itu layer administrasi, sungai dan sebagainya. Kebanyakan permintaan tersebut adalah untuk penelitian (skripsi/tesis). Saya belum dapat mengidentifikasi adakah yang bertujuan terkait untuk proyek berprofit. Selain itu, tulisan ini juga terinspirasi penelitian rekan dimana ditengah perjalanan ada banyak perubahan dan penyesuaian karena resolusi data spasial yang dimilikinya  tidak sesuai dengan kebutuhan penelitian tersebut.

Dari peristiwa itu, saya sempat merenung. Ada banyak pertanyaan yang menjadi konsen saya dalam renungan tadi. Kemudian, pada akhirnya dari banyak pertanyaan yang berputar-putar dikepala,  dapat disederhanakan dan mengkerucut menjadi 3 (tiga) saja. Pertama, ini terkait citra resolusi tinggi. Saya berfikiran apakah seseorang yang bertanya itu tidak menyadari bahwa citra resolusi tinggi itu punya price atau harga?. Artinya, tidak dapat diperoleh utuh tanpa menebus biaya ke provider citra satelit tersebut. Disisi lain, suatu institusi, person yang memiliki (dulunya tentu dengan membeli), apakah akan secara suka rela membagi citra satelit resolusi tinggi itu dengan cuma-cuma?. Dalam hal-hal khusus,  suatu instansi memang ada yang bersedia berbagi dengan mahasiswa yang penelitian dengan syarat-syarat tertentu atau prosedur tertentu. Tetapi kadang persoalannya adalah liputan yang diperlukan tidak selalu tersedia bukan?. Bagaimana ini kemudian?. Saya kini mengajak anda semua berfikir…

Yang kedua, terkait dengan shapefile. Saya memiliki pertanyaan sederhana, apakah seseorang yang meminta dibagi shapefile itu sudah berupaya untuk mendapatkannya pada data provider yang terkait?. Misalnya kalau itu Peta Rupa Bumi, sudahkah rekan-rekan kontak publishernya kemudian mengikuti prosedur untuk mendapatkannya?. Tidak semua data memang tersedia, bahkan ada yang perlu untuk dicari sendiri, dikumpulkan dan didigitasi sendiri. Kalau melakukan pengumpulan data sendiri memang akan makan biaya dan waktu yang ditanggung sendiri. Nominal biaya bisa besar atau kecil tergantung dengan jenis data, banyaknya data yang diperlukan. Iya memang, data spasial itu berharga dan kenyataannya demikian adanya. Ketiga, apakah sebelum pelaksanaan penelitian atau kegiatan yang memerlukan data spasial itu telah dipikirkan dengan cermat spesifikasi dan sumber data spasial tersebut ?.

Selanjutnya bagaimana?. Sebaiknya begini, tanamkan dalam sanubari bahwa kedua hal yang telah dibicarakan diatas merupakan sebuah proses. Karena yang sebenarnya adalah pengumpulan data adalah bagian dari proses SIG itu sendiri. Saya bahkan mengibaratkan pengumpulan data adalah bagian dari siklus daur hidup dalam SIG. Sungguh penting, sehingga ada baiknya sebelum masuk ke dalam penelitian atau kegiatan yang memerlukan data spasial maka sumber data dan cara perolehannya dipikirkan secara matang terlebih dahulu. Just in case kalau datanya memang belum ada dan anda tidak sanggup untuk memetakkannya sendiri, tidak kemudian macet ditengah jalan penelitiannya atau kegiatannya itu. Bagi yang skripsi/tesis kemudian macet karena data, akan berdampak pada waktu studi, kalau semester depan tidak selesai, membayar spp lagi bukan?.  Demikian juga yang memiliki kegiatan dengan menggunakan data spasial. Pikirkanlah hal itu…

Akhir kata, dengan berawal dari menyadari pengumpulan data merupakan bagian dari proses SIG, dan harus dilalui, kemudian memikirkan secara cermat mengenai cara perolehan data spasial itu sebelum penelitian ataupun kegiatan dimulai, saya pikir dapat membantu meminimalisir adanya hambatan ditengah jalan. Bahkan ada baiknya bila sebelum memulai sesuatu, desain dulu penelitian anda lengkap dengan data requirements secara sistematis. Selamat bekerja..